
Repelita Makassar - Pengamat Komunikasi Politik Attock Suharto menyatakan bahwa Partai Solidaritas Indonesia tidak diminati oleh masyarakat Sulawesi Selatan, meskipun partai tersebut membawa nama besar mantan Presiden Joko Widodo.
Pernyataan ini disampaikan Attock Suharto dalam keterangannya kepada media pada hari Jumat tanggal 30 Januari 2026, menanggapi gelombang perpindahan politisi ke PSI.
Ia mengungkapkan data konkret dari hasil pemilihan umum tahun 2024 yang menunjukkan rendahnya elektabilitas PSI di wilayah Sulawesi Selatan.
Pada tingkat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Selatan, Partai Solidaritas Indonesia hanya meraih empat puluh ribu dua ratus satu suara.
Angka tersebut setara dengan nol koma tujuh sembilan persen dari total suara yang masuk di provinsi tersebut, menunjukkan penerimaan yang sangat minim.
Attock Suharto menegaskan bahwa uji coba PSI di pemilu lalu menjadi penanda jelas bahwa partai itu tidak begitu diminati di Sulsel.
Faktor membawa nama besar Joko Widodo yang masih berstatus presiden saat pemilu berlangsung ternyata tidak cukup signifikan meningkatkan daya tarik partai.
Pengamat tersebut menyoroti bahwa membesarkan PSI di Sulawesi Selatan tidak semudah membalikkan telapak tangan dan bahkan lebih sulit daripada membesarkan Partai NasDem.
PSI bukan parpol yang kehadirannya sangat dinantikan publik Sulsel, sehingga butuh kerja ekstra jika partai Gajah itu ingin tampil sebagai jawara ujarnya.
Pernyataan ini muncul menyusur bergabungnya mantan politisi Partai NasDem Rusdi Masse Mappasessu ke dalam barisan Partai Solidaritas Indonesia.
Rusdi Masse sendiri sebelumnya dikenal sebagai arsitek kemenangan Partai NasDem di Sulawesi Selatan selama lebih dari sembilan tahun.
Attock Suharto mengingatkan bahwa meski PSI kini mendapat tambahan figur berpengalaman, tantangan untuk mendapatkan hati masyarakat tetap sangat besar.
Faktor historis dan kultural di Sulawesi Selatan menjadi pertimbangan penting yang tidak bisa diabaikan oleh partai manapun yang ingin berkembang di sana.
Partai Golkar telah lama berakar kuat di wilayah tersebut, sementara Partai NasDem berhasil tumbuh melalui kerja sistematis dalam kurun waktu yang cukup panjang.
Publik Sulawesi Selatan dinilai memiliki karakteristik tersendiri dalam memilih partai politik, tidak mudah terpengaruh oleh narasi nasional semata.
Attock Suharto menekankan bahwa kerja ekstra keras dan pendekatan yang sesuai dengan karakter lokal mutlak diperlukan bagi PSI.
Tanpa strategi yang tepat dan komitmen jangka panjang, sulit bagi partai baru untuk bersaing dengan partai yang sudah memiliki basis massa kuat.
Pernyataan pengamat ini memberikan perspektif realistis di tengah euforia perpindahan politik yang sedang terjadi di kancah perpolitikan Sulawesi Selatan.
Data empiris dari hasil pemilu menjadi bahan evaluasi penting bagi partai politik dalam merancang strategi pengembangan wilayah ke depannya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

