
Repelita Jakarta - Seorang pegiat media sosial, Bachrum Achmadi, memberikan tanggapan terkait pernyataan Jubir Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dian Sandi Utama, yang membela keabsahan ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Melalui akun X @bachrum_achmadi pada 26 Januari 2026,
Bachrum menyoroti klaim Dian yang menyebut ijazah Jokowi tetap sah meskipun terdapat perbedaan, termasuk dalam hal penggunaan materai, dengan dokumen milik rekan seangkatannya di Universitas Gadjah Mada.
Bachrum mengemukakan sejumlah perbedaan yang ia catat pada ijazah Jokowi jika dibandingkan dengan mahasiswa lain dari fakultas dan tahun yang sama.
Ia menyatakan bahwa material ijazah, kalender akademik, jurusan, hingga jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) yang tercantum menunjukkan variasi. Dalam nada yang satiris, Bachrum kemudian mengutip dan menyindir pembelaan yang diberikan, “Pokoknya khusus buat Jokowi beda, walopun beda tetap sah dan asli,” tulisnya di platform tersebut.
Ia juga secara langsung menyebut nama Jubir PSI itu dengan menambahkan, “Bener kan Dian Sandi?”.
Sebelumnya, Dian Sandi Utama telah mengulangi pernyataannya mengenai status ijazah Jokowi melalui akun X @DianSandiU pada 16 Januari 2026. Ia menegaskan bahwa perbedaan dalam aspek administratif, seperti pemakaian materai, tidak serta merta menggugurkan keaslian dan kesahan sebuah dokumen akademik.
Dian berargumen bahwa praktik administrasi di perguruan tinggi pada era 1980-an memiliki tingkat fleksibilitas yang tidak sama dengan standar ketat yang diterapkan saat ini.
“Fleksibilitas administrasi bukan hanya di UGM termasuk juga kampus yang lain,” klaim Dian Sandi dalam cuitannya.
Ia melanjutkan penjelasan dengan menyebut bahwa variasi dalam penggunaan materai adalah hal yang biasa terjadi pada masa lalu, bahkan terdapat dokumen yang menggunakan materai bernominal sangat rendah hingga ada yang tidak menggunakan materai sama sekali.
“Bahkan ada yang pakai materai 25 perak sampai akhirnya tidak bermaterai sama sekali,” ujarnya. Dian kemudian mengimbau publik untuk menggunakan pendekatan historis, bukan standar administratif masa kini, dalam menilai kasus ini.
Pernyataan Dian Sandi itu kemudian mendapat balasan dari seorang konten kreator bidang teknologi, Sigit D Wisnu. Dalam tanggapannya, Sigit menasihati Dian untuk berhati-hati dan tidak membela secara membabi buta. “Mas Dian, hati hati. Jangan menghamba sama Manusia. Dosanya besar sekali.
Kalau beliau salah, dan mas bela terus menerus dengan kasih alasan yang gak masuk akal. Nanti balik ke Mas lagi. Mending kalau gak punya kapasitas bela beliau, baiknya diam saja mas,” tulis Sigit. Ia menambahkan bahwa orang yang benar-benar mengalami proses kuliah akan mengetahui adanya kejanggalan dalam hal ini.
Sigit lebih lanjut menyebutkan dua poin yang ia anggap mencurigakan, yakni ketidaktepatan Jokowi dalam menyebut nama jurusan kuliahnya sendiri dan kesalahan dalam menyebut nama dosen pembimbing skripsi yang kemudian harus diralat.
“Lah beliau aja salah kok nyebut nama jurusan kuliahnya sendiri. Nama Dosen pembimbing salah yang kemudian diralat,” sambungnya dalam kutipan yang dikutip pada 17 Januari 2026.
Ia menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa hal-hal mendasar seperti itu tidak mungkin salah diingat oleh seseorang yang benar-benar menjalani studi. “Kalau yang benar-benar kuliah gak mungkin salah terkait hal basic kaya itu. Simple banget kok,” tutup Sigit D Wisnu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

