Repelita Jakarta - Akademisi dan praktisi hukum Henri Subiakto memberikan tanggapan terhadap kritik yang dilontarkan oleh Jusuf Kalla terhadap kinerja Nadiem Makarim.
Kritik dari mantan Wakil Presiden tersebut menyoroti periode ketika Nadiem masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Henri Subiakto menyampaikan pandangannya tersebut melalui sebuah cuitan di akun media sosial X milik pribadinya pada Senin (26/1/2026).
Menurut analisisnya, penerimaan Nadiem atas jabatan menteri saat itu diibaratkan seperti memasuki sebuah jebakan dalam hidup.
Alasan di balik pernyataan tersebut adalah keyakinannya bahwa sosok Nadiem berada di luar ranah kompetensi yang dibutuhkan untuk memimpin kementerian tersebut.
“Kesalahan Nadim adalah mau menerima jebakan hidup menjadi Menteri Pendidikan di luar kompetensinya,” tulis Henri Subiakto dalam cuitannya.
Keputusan untuk menerima jabatan itu dinilai telah mengubah banyak aspek mendasar dalam kehidupan pribadi dan profesional Nadiem.
Aspek-aspek yang terdampak meliputi nilai profesionalitas, akumulasi pengalaman, reputasi yang dibangun, hingga kapasitas intelektualnya.
Bahkan kehidupan rumah tangga dan keluarga juga dianggap turut terancam oleh dinamika politik dan ketidakpastian hukum yang berlaku.
“Ini menjadikan profesionalitas, pengalaman, reputasi, intelektualitas bahkan kehidupan bersama keluarganya terancam hancur karena politik dan hukum yang tak pasti di negeri ini,” paparnya lebih lanjut.
Henri Subiakto mengakui bahwa keunggulan mendasar Nadiem terletak pada penguasaannya yang mendalam di bidang teknologi digital.
Namun, keahlian khusus tersebut dianggap tidak selaras dengan kultur dan mekanisme birokrasi yang sudah mengakar di dalam tubuh pemerintahan.
“Dia memang menguasai teknologi, memiliki kultur yang berbeda dengan dunia orang-orang di pemerintah,” sebutnya dalam cuitan tersebut.
Kesenjangan kultur ini pada akhirnya menciptakan tantangan besar meskipun Nadiem dinilai sangat pandai dalam menguasai inovasi industri teknologi.
“Maka sepandai pandainya Nadim menguasai inovasi industri teknologi, jebakan birokrasi yang sangat dekat dengan resiko pidana,” terang Henri.
Situasi tersebut dinilai telah menghentikan laju kesuksesan yang sebelumnya berhasil dicapai oleh mantan Menteri Pendidikan tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

