Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Jerman Pimpin Eropa Bangun Kekuatan Militer Mandiri, Lepas dari Bayang-Bayang Amerika dan Bersiap Hadapi Ancaman Rusia

 Jerman Bangkitkan 'Raksasa Tidur', Siapkan Militer Terkuat Sejak Perang Dunia II

Repelita Berlin - Geopolitik global sedang mengalami ketegangan yang mendalam dan penuh ketidakpastian.

Benua Eropa saat ini tengah menghadapi perlombaan penguatan militer terbesar pasca berakhirnya Perang Dingin.

Negara-negara Eropa yang lama mengandalkan perlindungan Amerika Serikat kini dipaksa bangkit oleh kenyataan pahit.

Kedaulatan dan keamanan mereka tidak dapat terus bergantung pada jaminan dari kekuatan asing di masa depan.

Transformasi besar-besaran sedang terjadi di tubuh angkatan bersenjata berbagai negara Eropa.

Mereka berubah dari sekadar pasukan pendukung menjadi kekuatan tempur mandiri yang terus ditingkatkan kemampuannya.

Sebuah benteng pertahanan baru sedang dibangun untuk mengantisipasi ancaman serius yang mengintai di perbatasan timur benua tersebut.

Jerman memimpin proses transformasi pertahanan yang fundamental ini.

Mulai awal tahun 2026, setiap pemuda berusia 18 tahun di Jerman diwajibkan mengisi kuesioner untuk mendata kesiapan mereka menjalani wajib militer.

Meski sifatnya masih sukarela saat ini, langkah legal ini menjadi dasar bagi rencana besar Kanselir Friedrich Merz.

Ambisi Merz adalah membentuk angkatan darat konvensional paling kuat di seluruh kawasan Eropa.

Target yang dicanangkan sangat jelas dan terukur.

Bundeswehr ditargetkan memiliki 260.000 personel aktif dan 200.000 pasukan cadangan pada tahun 2035.

Angka itu setara dengan kekuatan yang pernah dimiliki Jerman pada masa Perang Dingin.

Latar belakang ambisi Merz memperkuat militer memiliki dasar yang kuat.

Sebagai pemimpin ekonomi utama di Eropa, Merz menyadari Jerman tidak boleh hanya kuat secara ekonomi namun lemah di bidang pertahanan.

Konflik di Ukraina menjadi momentum penyadaran bahwa stabilitas hanya bisa dijaga dengan kekuatan yang mampu menciptakan efek gentar.

Anggaran pertahanan Jerman melonjak drastis mencapai 108 miliar euro atau setara 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto tahun ini.

Langkah ini dimaksudkan agar Jerman mampu memimpin pertahanan kolektif Eropa tanpa selalu bergantung pada persetujuan Washington.

Konsep angkatan darat terkuat yang dikejar mencakup teknologi militer mutakhir dan kesiapan tempur penuh.

Modernisasi menyeluruh akan dilakukan pada armada tank Leopard 2.

Penguasaan sistem pertahanan udara jarak jauh dan integrasi kecerdasan buatan dalam sistem komando juga menjadi prioritas.

Jerman tidak hanya berfokus pada penambahan jumlah personel semata.

Kualitas peralatan tempur konvensional yang mampu beroperasi di medan perang intensitas tinggi juga ditingkatkan.

Tujuan akhirnya adalah menjadikan Bundeswehr sebagai tulang punggung operasional NATO di daratan Eropa.

Dorongan utama di balik langkah masif ini adalah perubahan persepsi terhadap Amerika Serikat.

Uni Eropa kini menyadari mereka tidak dapat lagi mengandalkan angkatan bersenjata Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan.

Kekecewaan memuncak seiring kebijakan "nativistik" yang diambil oleh Presiden Donald Trump yang dianggap merendahkan martabat Eropa.

Survei terkini mengungkap 84 persen warga Jerman tidak lagi yakin Amerika Serikat akan menjamin keamanan mereka.

Strategi Keamanan Nasional Trump yang dirilis November 2025 dinilai merusak institusi di Brussels dan memicu retak diplomatik mendalam.

Retaknya hubungan transatlantik memaksa Eropa memikirkan konsep "NATO Eropa" yang tidak bergantung pada Washington.

Ketidakpastian jaminan dari Amerika Serikat ini sangat krusial mengingat situasi kekuatan militer Rusia.

Rusia pada tahun 2026 telah sepenuhnya beralih ke mode ekonomi perang.

Mereka memiliki keunggulan dalam jumlah personel berpengalaman tempur dan produksi amunisi yang melampaui gabungan beberapa negara Eropa.

Rusia juga telah memperkuat armada drone pengintai dan serang jarak jauhnya.

Sistem pertahanan udara berlapis milik Rusia menjadikannya lawan yang sangat tangguh dalam konfrontasi konvensional.

Di sisi lain, meski memiliki Produk Domestik Bruto gabungan yang lebih besar dan teknologi lebih canggih, militer Eropa masih terpecah-pecah.

Ego nasional dan perbedaan sistem persenjataan antar negara menjadi kendala utama.

Tanpa dukungan logistik dan intelijen satelit Amerika Serikat, Eropa masih kesulitan melakukan mobilisasi cepat dalam skala besar.

Namun, kenaikan belanja pertahanan Jerman yang diproyeksikan mencapai 3,5 persen dari Produk Domestik Bruto pada 2030 mulai menggeser keseimbangan.

Niat Eropa membentuk penangkal nuklir gabungan Inggris-Prancis sebagai pengganti payung nuklir Amerika juga mengemuka.

Peningkatan kekuatan militer Jerman ini membuat Moskow merasa tidak nyaman.

Duta Besar Rusia untuk Jerman, Sergey Nechayev, menyebut Jerman sedang mempercepat persiapan untuk konfrontasi militer skala penuh.

Bagi banyak warga Jerman, masa depan Eropa sedang dipertaruhkan dalam transformasi ini.

Delapan dari sepuluh warga Jerman meyakini Vladimir Putin tidak memiliki niat damai yang tulus.

Mereka memperkirakan perluasan konflik ke negara anggota NATO mungkin terjadi pada tahun 2029.

Transformasi militer Jerman dan Eropa tahun 2026 ini bukan sekadar pilihan politik biasa.

Ini dianggap sebagai perjuangan eksistensial untuk bertahan hidup di dunia yang semakin tidak ramah dan penuh ancaman.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved