
Repelita Washington - Pemerintahan Amerika Serikat sedang mengkaji kemungkinan tindakan militer sebagai respons terhadap krisis berkepanjangan di Iran yang ditandai dengan penumpasan brutal terhadap demonstran oleh rezim Teheran
Ribuan warga sipil dilaporkan tewas akibat kekerasan massal yang dilakukan aparat dalam upaya meredam gelombang protes anti-pemerintah yang semakin meluas
Presiden Donald Trump pekan ini menyampaikan ancaman keras terhadap Iran sekaligus mendorong masyarakat sipil di sana untuk terus melakukan aksi protes lebih intensif
Menurut analisis yang dimuat The Economist pada Sabtu 17 Januari 2025 opsi militer yang dipertimbangkan Washington mencakup serangan terbatas atau operasi pemenggalan kepemimpinan guna mengakhiri kekuasaan para mullah yang telah berlangsung selama empat puluh tujuh tahun
Laporan tersebut menggambarkan situasi mengerikan di mana rumah sakit kehabisan tempat untuk jenazah mayat-mayat ditumpuk di trotoar dengan kantong mayat dan darah mengalir di mana-mana sehingga diperkirakan ribuan korban jiwa telah berjatuhan
Eskalasi kekerasan mematikan ini dipicu setelah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei memerintahkan pengerahan kekuatan militer penuh termasuk milisi sekutu Garda Revolusi yang menggunakan sepeda motor serta penembak jitu untuk menyasar warga sipil
Penembakan dilakukan secara sistematis dengan membidik bagian vital seperti wajah terhadap para demonstran yang meneriakkan slogan-slogan menentang kediktatoran
Amerika Serikat memiliki pilihan untuk melancarkan serangan udara menggunakan bom dan rudal yang menargetkan fasilitas-fasilitas strategis khususnya yang terkait dengan struktur Garda Revolusi di wilayah Iran
Namun intervensi militer tersebut membawa risiko sangat besar mengingat Iran memiliki arsenal rudal jarak jauh yang mampu membalas serangan hingga ke berbagai titik di Timur Tengah sehingga berpotensi memicu konflik berskala luas
Laporan itu menanyakan apa dampak dari serangan Amerika yang sedang dipertimbangkan Presiden Donald Trump untuk menumbangkan rezim mullah serta apa yang mungkin terjadi pasca-runtuhnya kekuasaan tersebut
Para analis memperingatkan bahaya Iran terjerumus ke dalam perang saudara serupa dengan yang terjadi di Suriah atau mengalami perpecahan wilayah seperti Yugoslavia karena adanya kelompok-kelompok separatis serta keberadaan senjata nuklir
Di sisi lain Gedung Putih juga menempuh jalur non-militer dengan memberikan dukungan secara diam-diam kepada tokoh oposisi di pengasingan yaitu Reza Pahlavi serta memfasilitasi penyelundupan perangkat internet Starlink untuk mengatasi blokade komunikasi yang diberlakukan rezim
Meski demikian opsi militer tetap menjadi pilihan paling berbahaya sebab kemampuan rudal jarak jauh Iran dapat dengan mudah memperluas perang ke seluruh kawasan Timur Tengah(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

