Repelita Teheran - Bagi sebagian besar warga Iran yang aktif dalam gelombang protes selama beberapa minggu terakhir Donald Trump sempat dianggap sebagai figur penyelamat yang akan memberikan dukungan nyata.
Keyakinan tersebut membuat perubahan sikap Trump kemudian terasa sebagai bentuk pengkhianatan yang mendalam di mata para demonstran.
Kekecewaan muncul karena terdapat perbedaan signifikan antara pernyataan tegas Trump dan realitas tindakan yang tidak mengikuti.
Pada awal kerusuhan Trump secara terbuka menyatakan dukungan kepada para pengunjuk rasa serta memberikan peringatan keras kepada pemerintah Iran.
Ia menulis di media sosial bahwa para patriot Iran harus terus berprotes menguasai lembaga-lembaga mereka mencatat nama para pelaku kekerasan dan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.
Trump juga menyatakan telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran hingga pembunuhan terhadap demonstran berhenti pada Selasa 13 Januari 2026.
Banyak warga Iran menafsirkan unggahan tersebut sebagai janji dukungan konkret bahkan kemungkinan intervensi militer dari Amerika Serikat.
Namun ketika protes berlanjut pemerintah Iran justru memutus akses komunikasi dan mengerahkan pasukan keamanan secara masif.
Laporan dari berbagai wilayah menyebutkan adanya tembakan penembak jitu serangan senapan mesin serta korban tewas dan hilang dalam jumlah besar.
Pengumuman Departemen Pertahanan AS yang memerintahkan personel non-esensial meninggalkan pangkalan semakin memperkuat persepsi persiapan konflik.
Kemudian terjadi perubahan mendadak ketika Trump mengumumkan bahwa kepemimpinan Iran telah meyakinkannya untuk menghentikan pembunuhan dan eksekusi.
Ia mengucapkan terima kasih atas pembatalan eksekusi gantung terhadap lebih dari delapan ratus orang yang dijadwalkan pada Sabtu 17 Januari 2026.
Pengumuman itu juga memberi sinyal bahwa aksi militer AS yang sebelumnya diantisipasi tidak akan dilanjutkan.
Bagi para demonstran yang bertindak berdasarkan harapan dukungan AS perubahan sikap ini menjadi kejutan yang sangat menyakitkan.
Seorang pengusaha di Teheran menyatakan kepada majalah TIME pada Minggu 18 Januari 2026 bahwa Trump bertanggung jawab atas kematian lima belas ribu orang ini.
Ia menambahkan bahwa banyak demonstran turun ke jalan setelah melihat unggahan Trump yang menyatakan AS siap tempur.
Warga Iran merasa AS telah membuat kesepakatan dengan Republik Islam untuk mengkhianati rakyat mereka.
Seorang warga yang diwawancarai setelah meninggalkan Iran mengatakan semua orang terkejut dan marah karena merasa dipermainkan serta ditipu.
Ia menyebut Trump menggunakan mereka sebagai umpan meriam dalam sandiwara politik.
Seorang perempuan di Teheran menyatakan telah kehilangan semua harapan dan bertanya mengapa Trump harus peduli pada mereka.
Warga Iran di perantauan juga merasakan kekecewaan yang mendalam seperti dilaporkan The Guardian.
Mereka menyaksikan penindasan brutal selama dua minggu dengan komunikasi keluarga yang terputus dan hanya mengandalkan harapan dari pernyataan Trump.
Seorang warga Iran di Sydney bernama Elham menggambarkan situasi ini sebagai tamparan di wajah.
Ia menegaskan bahwa jika Trump memberikan jalan keluar bagi rezim itu akan menjadi pengkhianatan yang sangat dalam dan tidak bisa dipulihkan.
Sebagian kecil lainnya berpendapat bahwa langkah mundur Trump bersifat taktis untuk memperdaya rezim.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyalahkan Donald Trump atas korban jiwa kerusakan dan fitnah yang ditimbulkan terhadap bangsa Iran pada Sabtu 17 Januari 2026.
Khamenei menyebut Trump sebagai penjahat dan menuduh AS serta Israel sebagai dalang di balik kekerasan yang menewaskan ribuan orang.
Protes dimulai akhir Desember 2025 dipicu masalah ekonomi seperti devaluasi rial kenaikan harga dan salah urus keuangan.
Awalnya berfokus pada isu ekonomi kemudian berkembang menjadi tuntutan reformasi politik dan perubahan pemerintahan.
Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia HRANA terdapat tiga ribu sembilan puluh kematian termasuk dua ribu delapan ratus delapan puluh lima demonstran serta lebih dari dua puluh dua ribu penangkapan.
Jaksa agung Iran menyatakan para tahanan akan menghadapi hukuman berat sebagai mohareb yang berperang melawan Tuhan dengan ancaman hukuman mati.
Meski Trump tampak mundur AS menyatakan semua opsi masih terbuka untuk menghentikan pembantaian sebagaimana disampaikan Duta Besar AS untuk PBB pada Kamis 15 Januari 2026.
Sebuah kapal induk AS dilaporkan menuju Timur Tengah sementara aset militer dikerahkan kembali untuk memperkuat pertahanan udara Israel.
Di Iran demonstran kini berada dalam ketidakpastian akibat pemadaman internet dan tekanan pemerintah yang berat.
Seorang warga Teheran bernama Alborz menyatakan protes berhenti sementara karena orang-orang menunggu langkah selanjutnya dari Trump.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

