
Repelita Jakarta - Pelaporan yang menimpa komika Pandji Pragiwaksono mendapatkan respons dari sesama komika yang dikenal dengan nama Guru Gembul.
Dia menilai bahwa serangan terhadap Pandji muncul seiring dengan meningkatnya muatan politik dalam materi pertunjukan komedi yang dibawakannya.
Guru Gembul menegaskan bahwa dirinya sendiri tidak mempermasalahkan materi komedi termasuk ketika dirinya dijadikan objek lelucon di berbagai panggung pertunjukan.
Menurutnya komedi memiliki ruang kebebasannya sendiri dan seharusnya dipahami sebagai bagian dari hiburan bukan sebagai suatu serangan yang bersifat personal.
Namun dia membedakan antara candaan biasa dengan tindakan memelintir ide atau pernyataan secara sengaja untuk kepentingan tertentu.
Guru Gembul menilai bahwa pemelintiran makna yang dilakukan dengan kesadaran penuh terutama pada isu-isu sensitif justru lebih berpotensi menimbulkan masalah dibandingkan sekadar lelucon di atas panggung.
Terkait polemik yang melibatkan Pandji dia menyebutkan bahwa reaksi publik banyak dipicu oleh posisi politik yang diambil secara terbuka oleh komika tersebut.
Pandji diketahui secara terang-terangan menyatakan dukungannya kepada Anies Baswedan dalam pemilihan presiden tahun dua ribu dua puluh empat.
Menurut Guru Gembul sikap terbuka seperti itu justru harus dihargai karena menunjukkan kejelasan posisi dan keberpihakan yang tidak ambigu.
Pernyataannya itu dikutip dari saluran YouTube Gembulkim dimana dia menyebutkan bahwa Pandji memang terbuka mengakui pilihannya kepada Anies bahkan berminat menjadi juru bicara.
Dia menilai bahwa sikap seperti yang ditunjukkan Pandji harus dihargai karena jelas posisi dan keberpihakannya sementara ada figur lain yang justru membuat orang kesal karena tidak konsisten.
Guru Gembul menilai bahwa ketegasan dalam bersikap justru menunjukkan kejujuran yang lebih baik dibandingkan dengan figur publik yang bersikap tidak konsisten atau sering berubah pendirian.
Dia juga menyebutkan bahwa sebagian serangan terhadap Pandji muncul karena persepsi publik yang menganggap kritik politiknya mengandung muatan personal termasuk ketika menyentuh aspek fisik atau gestur tokoh tertentu.
Hal inilah yang kemudian memicu perdebatan luas serta kemunculan kembali berbagai rekaman digital mengenai aktivitas Pandji di masa lampau.
Menurutnya perbedaan pendapat dalam sistem demokrasi merupakan hal yang wajar namun harus disikapi secara proporsional agar tidak berujung pada konflik yang berlebihan dan tidak produktif.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

