
Penulis: Rina Syafri
Pernyataan Irmam Gusman bersama sejumlah tokoh Aceh dan Sumatra—“jika tidak mau membantu kami, izinkan kami merdeka agar bisa menata negeri kami”—mengguncang ruang publik. Ungkapan ini bukan sekadar emosi sesaat, tetapi sebuah alarm keras yang menyingkap relasi pusat-daerah yang masih timpang dan belum terselesaikan hingga hari ini.
Ketimpangan yang Nyata
Sumatra dan Aceh memiliki sejarah panjang dan fundamental dalam menopang republik. Dari kekayaan sumber daya alam hingga kontribusi politik, peran kedua kawasan ini tak pernah kecil. Namun pembangunan yang terpusat di Jawa menumbuhkan rasa tersisih. Ketika aspirasi daerah tidak diberi ruang, ekspresi keras semacam ini muncul sebagai simbol perlawanan, sebagai tanda bahwa ada yang tidak baik-baik saja.
Retorika atau Ancaman?
Seruan “izinkan merdeka” jauh lebih dekat pada jeritan politik ketimbang ancaman separatis. Ia merupakan permintaan untuk diperlakukan setara, dihargai, dan diberi kesempatan menata daerah sesuai kebutuhan lokal. Retorika ini adalah cara menggugah perhatian, agar pemerintah pusat tidak terus abai terhadap kenyataan di lapangan.
Jalan Persatuan
Indonesia berdiri di atas fondasi kebersamaan. Karena itu, suara daerah tidak boleh ditanggapi dengan kecurigaan, tetapi dengan dialog yang jujur. Kebijakan yang berpihak dan distribusi anggaran yang adil harus menjadi prioritas. Otonomi daerah bukan hanya konsep administratif, melainkan instrumen nyata untuk memastikan setiap wilayah merasa memiliki tempat terhormat dalam republik.
Momentum Perbaikan
Pernyataan keras dari tokoh Aceh dan Sumatra seharusnya dibaca sebagai momentum penting. Momentum untuk memperbaiki pola hubungan pusat-daerah. Momentum untuk memperkuat rasa keadilan pembangunan. Pemerintah pusat perlu membuka komunikasi dua arah yang tulus, memastikan representasi politik yang lebih seimbang, dan membuktikan bahwa aspirasi daerah tidak hanya didengar, tetapi juga ditindaklanjuti.
Kesimpulan
Suara Sumatra dan Aceh adalah cermin kegelisahan yang sah. Bukan ancaman, melainkan panggilan untuk memperbaiki sistem. Indonesia hanya akan kokoh jika setiap wilayah merasa dihargai, diterima, dan diberi ruang untuk menata dirinya dalam bingkai persatuan.

