Penulis: Rina Syafri
Bencana banjir yang melanda Sumatera dan Aceh telah menimbulkan penderitaan mendalam bagi masyarakat. Rumah hanyut, lahan rusak, dan kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, serta tempat tinggal sementara menjadi hal paling mendesak. Di tengah kondisi ini, wacana Menpora Erick Thohir menyiapkan bantuan alat olahraga justru menimbulkan tanda tanya besar.
🏚 Kebutuhan mendesak korban bencana adalah sandang, pangan, papan, serta layanan kesehatan. Mengirimkan alat olahraga di saat rakyat berjuang bertahan hidup jelas tidak relevan.
💧 Situasi darurat menuntut fokus pada pemulihan dasar: logistik, air bersih, obat-obatan, dan dukungan psikososial.
🪵 Aktivitas fisik korban bencana sudah sangat berat. Membersihkan rumah, mengangkat kayu gelondongan, dan menata kembali lingkungan pasca banjir adalah bentuk kerja keras yang jauh lebih melelahkan daripada sekadar berolahraga.
⚠ Komunikasi pejabat publik harus berhati-hati. Pernyataan yang tidak sesuai kebutuhan rakyat berisiko memicu emosi dan memperlihatkan jarak antara pejabat pusat dengan realitas di lapangan.
Pesan Kritis
Pejabat publik digaji dari pajak rakyat. Maka, setiap kebijakan harus berangkat dari logika kebutuhan rakyat, bukan sekadar pencitraan atau program seremonial. Prinsip sederhana yang seharusnya dipegang adalah: berpikir dulu, baru bicara.
Penutup
Rakyat tidak meminta fasilitas olahraga. Mereka meminta kehadiran negara dalam bentuk bantuan nyata: makanan, pakaian, tempat tinggal, dan perlindungan. Jika tidak mampu memberi solusi yang tepat, lebih baik pejabat diam daripada menambah luka dengan pernyataan yang memicu emosi.

