Repelita Jakarta - Ratusan jiwa warga di wilayah Pulau Sumatera meregang nyawa akibat terjangan banjir bandang yang melanda kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi memilukan tersebut telah memantik gelombang emosi serta keprihatinan yang mendalam dari berbagai kalangan masyarakat di seluruh tanah air.
Salah satu tokoh yang turut menyuarakan keprihatinannya adalah sejarawan dan mantan pejabat kementerian Profesor Anhar Gonggong.
Berdasarkan informasi yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, total korban meninggal akibat bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera telah mencapai angka tiga ratus tiga jiwa.
Rincian dari data tersebut menunjukkan sebanyak seratus enam puluh enam korban berasal dari Provinsi Sumatera Utara.
Sementara itu sembilan puluh korban dilaporkan dari Provinsi Sumatera Barat dan empat puluh tujuh korban berasal dari Provinsi Aceh.
Menyikapi situasi darurat tersebut, Profesor Anhar Gonggong melontarkan pernyataan yang cukup tegas dan keras terkait akar masalah dari bencana alam ini.
Mantan Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala itu bahkan menyampaikan harapannya agar ada sanksi berat bagi para pelaku atau dalang di balik rentetan kejadian tragis ini.
Disitat dari kanal YouTube Anhar Gonggong Official, dia menyatakan terdapat satu hal yang menurutnya memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Fenomena yang dimaksud adalah adanya gelondongan kayu berukuran besar yang turut hanyut bersama derasnya aliran banjir bandang.
“Kan gelondongan besar itu datang dengan air cepat, menghantam jembatan yang jembatannya itu enggak kuat menahan. Nah, apa yang saya mau kaitkan dan mau katakan kepada itu? Tidak mungkin gelondongan kayu besar itu ada kalau tidak ada yang melakukan sesuatu, kan,” ucap dia.
Material kayu berukuran besar itu disebutkan menjadi salah satu faktor penyebab utama runtuhnya beberapa infrastruktur jembatan dan rumah penduduk.
“Artinya, saya melihat bahwa di sana pasti ada kegiatan yang bersifat ilegal yang melakukan pemotongan kayu besar,” sambungnya.
Anhar Gonggong meyakini dengan tegas bahwa aparatur pemerintahan setempat atau perangkat daerah pasti mengetahui adanya kegiatan ilegal tersebut.
“Saya percaya bahwa pemerintah daerah pasti ada yang tahu, bahwa di atas sana, pernah ada atau sedang terjadi perusakan alam dengan kepentingan ekonomi yang mereka inginkan dengan menebang kayu itu. Nah, ini harus menjadi perhatian,” ujar dia.
Dia juga meyakini bahwa Kementerian Lingkungan Hidup sebenarnya telah memiliki aturan yang cukup komprehensif terkait perlindungan hutan.
Permasalahan utamanya terletak pada sistem pengawasan yang dinilai sangat lemah dan tidak berjalan secara optimal di lapangan.
Di sisi lain, dia menyatakan sepakat dengan pernyataan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menyebut potensi alam Indonesia sangat kaya.
Bahkan kekayaan alam Indonesia sempat disebut-sebut masuk dalam peringkat tiga besar di tingkat dunia.
“Nah, apa yang saya mau katakan ini? Saya mau mengatakan bahwa oke, mari kita bangga dengan kekayaan alam kita. Tetapi kan kekayaan alam itu harus dipelihara, bukan justru harus di dirusak dan sebagainya.”
Anhar Gonggong mengingatkan kembali bahwa bumi beserta isinya diciptakan oleh Tuhan untuk dijaga dan dirawat dengan baik oleh umat manusia.
“Tapi celakanya orang yang serakah justru merusak dengan penebangan hutan, untuk kepentingan keuntungannya dan sebagainya. Mereka tidak pernah memikirkan dampak dari perbuatannya.”
“Nah, setelah ada bencana alam seperti ini, maka apa yang terjadi? Baru kita lihat dampaknya kan, ya merusak,” sambungnya.
Berkaca dari kejadian banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera, Anhar Gonggong meminta Presiden Prabowo Subianto untuk bersikap tegas.
Menurutnya tidak cukup hanya memberikan bantuan kemanusiaan pada para korban yang terdampak langsung oleh bencana alam tersebut.
“Justru yang terpenting adalah bagaimana melaksanakan aturan itu dan melakukan pengawasan secara ketat.”
“Nah, kalau saya sebagai warga negara yang pedih melihat perusakan itu, kalau memang ketahuan, menurut saya hukuman mati aja,” tegasnya.
“Kenapa? Sederhana. Dengan apa yang dilakukan sebenarnya dia membunuh masa depan,” sambungnya.
Anhar Gonggong menambahkan bahwa kerusakan yang dilahirkan oleh tindakan penebangan hutan secara ilegal telah merusak masa depan bangsa secara keseluruhan.
“Dia mau mendapatkan keuntungan tapi dia lupa bahwa keuntungan yang dia peroleh membunuh masa depan generasi yang akan datang. Generasi loh yang dirusak itu,” tuturnya.
“Bencana alam yang kita alami sekarang itu generasi yang dirusak. Bukan hanya yang sudah meninggal sekian puluh orang, mungkin sekian ratus orang dan sebagainya,” imbuh Anhar Gonggong.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

