
Repelita Jakarta - Sektor manufaktur di China mengalami penyusutan aktivitas pada bulan November, yang menandai penurunan berkelanjutan selama delapan bulan secara beruntun, sementara bidang jasa juga menunjukkan pelemahan yang signifikan.
Dikutip dari Business Times, Selasa 2 Desember 2025, indeks pengukur kegiatan manufaktur atau PMI mengalami kenaikan tipis menjadi 49,2 dibandingkan dengan 49,0 pada Oktober sebelumnya, meskipun nilai tersebut tetap berada di bawah ambang 50 yang menjadi penanda antara ekspansi dan kontraksi industri.
Prediksi dari para analis sebelumnya juga memperkirakan angka tersebut mencapai 49,2, yang menggambarkan bagaimana pabrik-pabrik di negara itu masih menghadapi tantangan besar untuk pulih pasca-pandemi, ditambah dengan beban dari konflik perdagangan dengan Amerika Serikat yang semakin mempersulit operasional bisnis.
Meskipun pesanan baru termasuk yang berasal dari ekspor menunjukkan sedikit perbaikan, namun kekuatannya belum mencukupi untuk mengangkat kembali pertumbuhan sektor manufaktur secara keseluruhan.
Diperkirakan pemerintah China baru akan meluncurkan dukungan ekonomi skala besar pada tahun depan, mengingat target pertumbuhan untuk 2025 sekitar 5 persen masih dianggap dapat tercapai dengan upaya yang ada.
Secara tradisional, pemulihan ekonomi di China dilakukan melalui peningkatan ekspor atau proyek infrastruktur raksasa, tetapi saat ini pendekatan tersebut semakin sulit diterapkan karena perlambatan ekonomi dunia, krisis di sektor properti yang berkepanjangan, serta beban utang pada pemerintahan daerah yang membatasi ruang untuk stimulus lebih lanjut.
Di tengah kondisi tersebut, perusahaan manufaktur berskala kecil justru mencatat peningkatan PMI menjadi 49,1, yang merupakan level tertinggi dalam enam bulan terakhir, kemungkinan didorong oleh performa ekspor yang lebih baik serta kebijakan Presiden AS Donald Trump dalam mengurangi sebagian tarif impor terhadap produk-produk asal China.
Sementara itu, PMI untuk sektor non-manufaktur yang meliputi jasa dan konstruksi mengalami penurunan menjadi 49,5 dari 50,1 sebelumnya, menandai kontraksi pertama kali sejak tahun 2022.
Pelemahan di bidang jasa ini disebabkan oleh menghilangnya momentum pengeluaran selama periode liburan Oktober, dengan beberapa subsektor seperti jasa properti dan layanan rumah tangga mengalami kemerosotan aktivitas pasar yang cukup parah.
Untuk merangsang pengeluaran masyarakat, otoritas telah mengumumkan rencana peningkatan konsumsi yang mencakup pengembangan pasar di wilayah pedesaan serta promosi sektor hiburan termasuk produk hewan peliharaan, konten anime, dan berbagai mainan populer.
Menurut para analis, apabila pemerintah mengalokasikan subsidi konsumsi dalam jumlah lebih besar pada 2026, maka sektor jasa berpotensi pulih lebih cepat dan menghasilkan peluang kerja baru yang lebih banyak.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

