Oleh Rina Syafri
Ucapan Kepala BNPB yang sempat menyebut dampak bencana di Sumatera hanya “mencekam di media sosial,” lalu kemudian menangis melihat langsung kondisi di lapangan dan meminta maaf, menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Bencana bukanlah sekadar narasi daring, melainkan kenyataan pahit yang dialami rakyat: rumah hancur, lahan rusak, dan nyawa melayang.
Pepatah Minang mengingatkan kita: “Mangango dulu baru mangecek, jan asa kamalantuang se kecek tu.” Artinya, pikirkan dulu sebelum berbicara, jangan asal melontarkan kata-kata. Sebab ucapan yang tidak dipikirkan matang bisa melukai hati rakyat, menimbulkan rasa kecewa, bahkan memicu kebencian terhadap pemerintah pusat.
Pelajaran dari Bencana Sumatera
- Empati harus mendahului kata-kata. Rakyat yang sedang berduka membutuhkan pengakuan atas penderitaan nyata, bukan perdebatan tentang persepsi media sosial.
- Komunikasi publik adalah tanggung jawab besar. Setiap ucapan pejabat bisa menjadi penguat semangat atau sebaliknya, menambah luka sosial.
- Jangan menyalahkan rakyat atau netizen. Menyebut kondisi “mencekam hanya di sosmed” justru bisa dianggap sebagai bentuk hoaks dari pejabat itu sendiri, karena faktanya penderitaan nyata terjadi di lapangan.
- Jadikan bencana sebagai pengingat. Jangan sampai ucapan asal melantong justru menyakiti hati saudara-saudara kita yang terkena bencana.
Penutup
Air mata Kepala BNPB di lapangan memang menunjukkan sisi manusiawi, tetapi pelajaran utamanya adalah: pejabat publik harus berbicara sesuai fakta, dengan penuh empati, dan tidak asal menyalahkan rakyat. Pepatah Minang tadi seharusnya menjadi pedoman: pikirkan matang-matang sebelum berbicara, agar keputusan dan pernyataan tidak merusak hati rakyat. Karena sekali kepercayaan hilang, sulit untuk dikembalikan.

