Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

WIKA Akui Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bikin Perusahaan Rugi

Repelita Jakarta - Sebuah entitas badan usaha milik negara di sektor konstruksi bernama PT Wijaya Karya Tbk atau WIKA secara terbuka mengakui bahwa keterlibatannya dalam proyek transportasi berkecepatan tinggi antar kota di Jawa, yang dikenal sebagai Whoosh, telah menimbulkan tekanan finansial berkelanjutan yang memengaruhi kestabilan neraca perusahaan secara keseluruhan, di mana ketidakmampuan mencapai proyeksi penumpang sejak tahap operasional awal menjadi pemicu utama defisit yang tercatat secara periodik dan membebani kemampuan WIKA untuk mengalokasikan sumber daya ke proyek-proyek lain yang lebih menguntungkan.

Direktur utama WIKA, Agung Budi Waskito, menguraikan bahwa perusahaan menempati dua posisi krusial dalam inisiatif tersebut, yaitu sebagai penyuntik modal melalui kepemilikan 32 persen di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia dengan nilai Rp6,1 triliun, serta sebagai pelaksana utama pekerjaan sipil yang mencakup sekitar seperempat total volume proyek termasuk penggalian, timbunan, dan pondasi dasar, sebuah dualitas peran yang kini justru memperbesar eksposur risiko karena kombinasi kerugian investasi dan biaya tambahan dari keterlambatan pelaksanaan.

Secara otomatis, setiap akhir tahun atau setiap kuartalan kami membukukan kerugian dari proyek kereta cepat ini.

Agung menambahkan bahwa selain beban dari sisi ekuitas, WIKA juga terlibat dalam perselisihan kontraktual dengan PT Kereta Cepat Indonesia China atau KCIC terkait tuntutan kompensasi atas biaya ekstra selama fase pembangunan, di mana proses arbitrase yang sedang berlangsung berpotensi menambah kerugian signifikan jika tidak diselesaikan sesuai harapan, sebuah situasi yang memperburuk posisi keuangan perusahaan di tengah tekanan likuiditas dari operasional harian yang semakin menurun.

Nah, ini sedang berproses, dispute antara WIKA dengan KCIC yang nilainya cukup besar.

Menurut Agung, penyelesaian konflik ini sedang difasilitasi oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara sebagai penengah, dengan skenario potensial berupa penataan ulang struktur utang KCIC atau akuisisi aset oleh pemerintah pusat dari empat pemilik utama seperti PT Kereta Api Indonesia, WIKA, PT Perkebunan Nusantara, dan PT Jasa Marga, di mana opsi kedua dianggap menguntungkan bagi entitas negara di bidang infrastruktur karena bisa meringankan beban modal tanpa kehilangan aset strategis.

Kita sedang menunggu, karena kalau nantinya proyek ini diambil alih oleh pemerintah, tentu akan berdampak positif bagi WIKA.

Agung menekankan bahwa paparan WIKA terhadap proyek ini cukup substansial, baik dari kontribusi ekuitas Rp6,1 triliun maupun potensi rugi dari sengketa konstruksi yang belum tuntas, di mana KCIC sebagai perusahaan patungan dengan PSBI menguasai 60 persen dan Beijing Yawan HSR Co Ltd 40 persen bertanggung jawab atas pengelolaan keseluruhan, sebuah model kemitraan bilateral yang meskipun dirancang untuk efisiensi kini terbukti rentan terhadap ketidakseimbangan operasional dan fluktuasi pasar penumpang domestik.

KCIC merupakan perusahaan patungan antara konsorsium BUMN Indonesia melalui PSBI sebsar 60% dan China Railway International Co. Ltd. sebesar 40% yang bertanggung jawab atas pengelolaan proyek Whoosh.

Dalam PSBI, WIKA menduduki porsi 33,36 persen di samping PT Kereta Api Indonesia dengan 58,53 persen, PT Perkebunan Nusantara I 1,03 persen, dan PT Jasa Marga 7,08 persen, sementara di sisi China, Beijing Yawan HSR Co Ltd terdiri dari CREC 42,88 persen, Sinohydro 30 persen, CRRC 12 persen, CRSC 10,12 persen, serta CRIC 5 persen, sebuah komposisi yang mencerminkan keseimbangan bilateral namun kini menimbulkan ketidakstabilan finansial bagi pihak Indonesia akibat kinerja di bawah ekspektasi dan beban utang yang terus menumpuk tanpa dukungan APBN langsung.

Komposisi pemegang saham PSBI yaitu PT Kereta Api Indonesia (Persero) 58,53 persen, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 33,36 persen, PT Perkebunan Nusantara I 1,03 persen, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk 7,08 persen. Adapun komposisi pemegang saham Beijing Yawan HSR Co. Ltd yaitu CREC 42,88 persen, Sinohydro 30 persen, CRRC 12 persen, CRSC 10,12 persen, dan CRIC 5 persen.

Secara keseluruhan, kinerja WIKA hingga akhir triwulan ketiga 2025 mencatat defisit bersih Rp3,21 triliun, berbalik dari surplus Rp741,43 miliar pada periode serupa tahun sebelumnya, di mana penurunan pendapatan sebesar 27,54 persen menjadi Rp9,09 triliun didorong oleh kontraksi tajam di segmen infrastruktur dan bangunan hingga 40,42 persen menjadi Rp3,58 triliun, serta penurunan di industri 25,36 persen menjadi Rp2,63 triliun, energi Rp2,3 triliun, hotel Rp203,78 miliar, properti Rp192,33 miliar, dan investasi Rp174,62 miliar, sebuah tren yang semakin mempertegas dampak proyek ambisius seperti Whoosh terhadap ketahanan keuangan BUMN di sektor jasa rekayasa.

WIKA mengalami rugi bersih Rp 3,21 triliun hingga kuartal III 2025, berbalik dibandingkan laba bersih Rp 741,43 miliar periode yang sama tahun lalu.

Kinerja laba turun seiring pendapatan yang turun 27,54% dari Rp 12,54 triliun menjadi Rp 9,09 triliun. Pendapatan segmen usaha infrastruktur dan gedung anjlok 40,42% menjadi Rp 3,58 triliun.

Pendapatan segmen usaha industri juga merosot 25,36% menjadi Rp 2,63 triliun, sedangkan pendapatan segmen energi dan industrial plant tercatat Rp 2,3 triliun, hotel Rp 203,78 miliar, realty dan properti Rp 192,33 miliar, dan investasi Rp 174,62 miliar.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved