Repelita Jakarta - Pengamat politik M Rizal Fadillah menyoroti kesamaan pola kepemimpinan antara Prabowo dan Jokowo dalam tulisan yang dirilis pada 9 November 2024. Menurutnya, kedua tokoh ini menunjukkan kesamaan dalam perilaku politik yang mengundang pertanyaan publik mengenai konsistensi dan integritas kepemimpinan mereka.
Dia menilai bahwa baik Prabowo maupun Jokowo kerap menghadirkan retorika yang menjanjikan perubahan, namun kenyataannya banyak janji politik yang tidak terealisasi. Kesenjangan antara ucapan dan tindakan ini dianggap mencerminkan pola kepemimpinan yang serupa dan berpotensi merugikan rakyat.
Selama periode pengaruh politik keduanya, berbagai persoalan tata kelola pemerintahan muncul, mulai dari praktik korupsi yang masif hingga distorsi penegakan hukum. Aparatur negara dinilai mendapatkan perlakuan berbeda tergantung status dan kedekatan politik, sehingga menimbulkan ketimpangan dalam keadilan.
Pola kepemimpinan yang muncul juga dikaitkan dengan konsensus politik yang tidak transparan, kemenangan elektoral yang dipenuhi persoalan, serta lembaga reformasi yang kontroversial dan kurang efektif. Hal ini membuat harapan perubahan menjadi stagnan dan publik kehilangan kepercayaan terhadap mekanisme pemerintahan.
Isu proyek infrastruktur strategis dan utang negara yang terus meningkat menjadi sorotan penting dalam tulisan tersebut. Kekhawatiran terkait transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan proyek besar ini dianggap tidak mendapatkan respons memadai dari pihak yang berwenang.
Penulis menyerukan perlawanan sistematis dari rakyat sebagai bentuk pengawasan terhadap kepemimpinan yang tidak berpihak pada kepentingan publik. Ia menekankan perlunya proses hukum terhadap mantan pemimpin yang dianggap bermasalah, pemberhentian pejabat tidak kompeten, dan sanksi tegas bagi pelanggaran yang terjadi.
Tulisan ini menjadi pengingat bahwa kualitas kepemimpinan dan integritas politik sangat menentukan arah pembangunan demokrasi Indonesia. Evaluasi kritis atas Prabowo maupun Jokowo, menurut penulis, menjadi penting agar bangsa tidak terus mewarisi praktik kepemimpinan yang menimbulkan ketimpangan dan stagnasi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

