Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Menteri PPPA Kecam Pendakwah Cium Anak Perempuan: Perilaku Tak Dibenarkan

 Kasus Gus Elham Ingatkan Pentingnya Edukasi Otoritas Tubuh pada Anak

Repelita Jakarta - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyatakan keprihatinan mendalam terhadap perilaku seorang pendakwah yang diduga melampaui batas kewajaran dalam memperlakukan anak perempuan.

Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi secara tegas menanggapi video viral yang memperlihatkan tindakan pendakwah Elham Yahya Luqman yang mencium anak perempuan dalam beberapa kesempatan dakwahnya.

"Kami sependapat dengan publik tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan, terlepas dari status atau posisi siapapun yang melakukannya, termasuk mereka yang dianggap sebagai pemuka agama," jelas Arifah melalui pernyataan resmi di Jakarta pada Kamis 13 November 2025.

Kejadian ini dinilai menjadi pelajaran penting bagi seluruh masyarakat mengenai urgensi menjaga batasan dalam berinteraksi dengan anak-anak.

Perilaku yang melibatkan kontak fisik tanpa persetujuan terlebih dilakukan orang dewasa terhadap anak berpotensi besar menjadi bentuk pelecehan.

Dampak psikologis yang serius dapat dialami oleh korban akibat tindakan semacam ini.

Kasus ini juga mengungkap pentingnya pemahaman masyarakat tentang relasi kuasa antara orang dewasa dan anak.

Dalam berbagai konteks sosial dan keagamaan figur yang memiliki otoritas seringkali berada pada posisi dominan dan mudah dipercaya.

Situasi ini dapat menciptakan ketimpangan kuasa yang berpotensi disalahgunakan.

Relasi kuasa yang tidak seimbang kerap dimanfaatkan melalui metode nonfisik seperti bujukan rayuan tekanan emosional atau manipulasi psikologis.

Teknik tersebut dalam dunia perlindungan anak dikenal sebagai praktik child grooming.

Pelaku biasanya berusaha menormalisasi perilaku menyimpang dengan dalih kasih sayang atau kedekatan emosional.

Akibatnya anak dapat mengalami perasaan bersalah kebingungan dan trauma berkepanjangan.

Untuk mencegah terulangnya kasus serupa Menteri PPPA menekankan pentingnya pendidikan tentang otoritas tubuh sejak usia dini.

Setiap anak perlu memahami bahwa tubuh mereka sepenuhnya merupakan milik mereka sendiri.

Tidak seorang pun berhak menyentuh atau melanggar batas pribadi mereka tanpa persetujuan.

Pendidikan ini juga bertujuan melatih anak untuk berani menolak sentuhan yang membuat tidak nyaman.

Anak juga perlu dilatih untuk berani melaporkan kejadian tidak menyenangkan kepada orang dewasa yang dapat dipercaya.

Edukasi mengenai otoritas tubuh menjadi langkah strategis dalam mencegah praktik child grooming.

Anak yang memahami batas tubuhnya akan lebih mampu mengenali tanda-tanda perilaku manipulatif.

Kemampuan ini tetap berlaku meskipun perilaku tersebut dilakukan oleh orang yang dikenal atau dihormati.

Dengan bekal pengetahuan ini anak dapat lebih cepat melindungi diri dan mencari pertolongan.

Menteri PPPA mengajak seluruh komponen masyarakat bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman dan bebas kekerasan.

Orang tua diimbau untuk membangun komunikasi terbuka dengan anak-anak mereka.

Sementara itu lembaga pendidikan dan sosial wajib memastikan adanya sistem pengawasan dan perlindungan yang efektif.

Peran orang tua menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak terutama kekerasan seksual.

Orang tua memikul tanggung jawab penting untuk memberikan pendidikan sejak dini mengenai privasi dan cara menjaga tubuh.

"Selain itu, orang tua perlu menanamkan keberanian pada anak untuk berbicara atau bercerita apabila mengalami atau mendapatkan perlakuan yang tidak pantas," tegas Menteri Arifah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved