
Repelita Jakarta - Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri Jimly Asshiddiqie mengadakan pertemuan tertutup dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang berlangsung selama dua setengah jam penuh.
Diskusi mendalam tersebut mencakup berbagai isu krusial kebangsaan dengan fokus utama pada upaya pembenahan institusi Kepolisian Republik Indonesia serta sistem hukum dan peradilan nasional.
"Banyak masalah kebangsaan yang kami diskusikan selama 2,5 jam, salah satu tentang reformasi Polri, reformasi hukum dan peradilan," ungkap Jimly saat dihubungi pada Jumat 21 November 2025.
Pertemuan juga menyentuh kebutuhan mendesak untuk melakukan penataan ulang menyeluruh terhadap sistem politik dan ketatanegaraan setelah 27 tahun era Reformasi berjalan sejak 1998 hingga 2025.
Jimly secara khusus menyerahkan buku terbarunya yang merupakan karya ke-82 berjudul Menuju Perubahan Kelima Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 langsung kepada Megawati.
Penyerahan buku dilakukan di hadapan mantan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD yang juga anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri.
"Dengan ini saya persembahkan kepada Ibunda Megawati Soekarnoputri, untuk dijadikan bahan bacaan dan bahan pemikiran dalam rangka penataan kembali sistem ketatanegaraan melalui perubahan kelima Undang-Undang Dasar 1945," ujar Jimly saat menyerahkan buku tersebut.
Jimly menegaskan bahwa setelah menyelesaikan tugas pembenahan internal Polri, langkah selanjutnya adalah melakukan amendemen kelima UUD 1945 untuk memperbaiki berbagai elemen ketatanegaraan lainnya.
"Jadi maksudnya, Bu, habis kita ngurusin polisi, nanti kita membenahi yang lain-lain melalui perubahan kelima. Nanti materinya biar kami diskusikan," tutur Jimly kepada Megawati.
"Banyak, Bu. Termasuk MPR, DPR, DPD," tambahnya.
Megawati merespons bahwa dirinya telah lebih dahulu mengusulkan amendemen kelima untuk mengembalikan kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai lembaga tertinggi negara.
"Kan minta untuk dinaikkan lagi MPR, tapi saya kan bilangnya, hanya satu kali kita menaikkan MPR. Nah, tapi kan yang protes sopo (siapa)? Abang Brewok. Katanya "Kotak Pandora", entah kotak pandora opo (apa)," kata Megawati.
Editor: 91224 R-ID Elok

