
Repelita Khartoum - Suasana mencekam melanda Sudan setelah laporan pembantaian sipil di Al-Fashir terungkap ke publik. Warga menggambarkan kondisi mengenaskan dengan puluhan mayat bergelimpangan di jalan usai serangan pasukan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
Warga di Al-Fashir melaporkan, pasukan RSF menembaki penduduk sipil di jalanan, meluncurkan serangan drone, bahkan melindas warga dengan kendaraan militer. Kesaksian itu muncul dari sejumlah orang yang berhasil melarikan diri ke kota Al-Dabba dan Tawila, sebagaimana diungkapkan kepada Reuters.
Penyerangan brutal itu terjadi setelah RSF mengambil alih kendali atas kota Al-Fashir pada 26 Oktober. Penguasaan ini sekaligus menegaskan dominasi RSF di wilayah Darfur dalam perang yang telah berlangsung selama dua setengah tahun melawan tentara Sudan.
Seorang saksi yang selamat mengatakan, kelompoknya sempat berusaha kabur dari tembakan gencar namun dikepung truk RSF. Pasukan bersenjata itu menembaki warga dengan senapan mesin, bahkan menggencet korban menggunakan kendaraan.
“Anak muda, lansia, anak-anak, mereka menabrak semua,” ungkap saksi mata yang enggan disebutkan namanya melalui sambungan telepon dari Tawila pada Sabtu (8/11/2025).
Saksi lain bernama Mubarak menuturkan, pembunuhan massal berlanjut di hari kedua penyerangan. Ia menyaksikan para pejuang RSF menyerbu rumah-rumah warga setelah merebut pangkalan militer setempat.
“Lima puluh atau enam puluh orang di satu jalan dibunuh. Dentuman terdengar tanpa henti, dari satu jalan ke jalan lain. Itu pembantaian di depan mata saya,” ujarnya.
Menurut Mubarak, banyak warga tak sempat melarikan diri karena terluka atau sudah lanjut usia. Mereka akhirnya tewas di rumah masing-masing.
Para pejuang perlawanan lokal, yang kebanyakan berasal dari kalangan muda, mencoba menghadang serangan, sementara tentara pemerintah justru memilih bertahan di pangkalan atau mundur dari kota.
“Siapa pun yang berada di jalan menjadi sasaran drone dan peluru,” lanjutnya.
Saksi lain, Abdallah, juga melaporkan drone milik RSF mengikuti warga sipil yang melarikan diri dan menembaki mereka tanpa ampun. Ia menyebut ada sekitar 40 jenazah yang terlihat di satu lokasi di Al-Fashir.
Reuters belum dapat memverifikasi keterangan tersebut secara independen. Namun, laporan para saksi itu sejalan dengan temuan lembaga bantuan, PBB, dan rekaman media sosial yang telah diverifikasi.
Laporan terbaru dari Laboratorium Penelitian Kemanusiaan Yale memperkuat bukti adanya pembantaian. Citra satelit memperlihatkan keberadaan mayat di sejumlah titik Al-Fashir serta gangguan tanah yang diduga merupakan kuburan massal.
Data satelit juga menunjukkan kendaraan besar keluar masuk wilayah itu, mengindikasikan adanya aktivitas pemindahan jenazah dan penjarahan. RSF disebut telah menutup jalur utama menuju Garney, sehingga warga sipil sulit menyelamatkan diri.
Kepala HAM PBB, Volker Turk, menyampaikan keprihatinannya bahwa kejahatan kemanusiaan seperti eksekusi, pemerkosaan, dan kekerasan bermotif etnis masih terus terjadi di dalam kota.
Pada Kamis (6/11/2025), RSF menyatakan kesediaannya terhadap usulan gencatan senjata kemanusiaan dari Amerika Serikat dan negara-negara Arab. Namun, sehari kemudian, pasukan paramiliter itu kembali melancarkan serangan udara ke Khartoum dan Atbara.
Meskipun kedua pihak berulang kali menyetujui perjanjian gencatan senjata, perang saudara yang berlangsung lebih dari dua tahun itu terus menciptakan krisis kemanusiaan akut. Warga Al-Fashir kini menghadapi kelaparan, ketakutan, dan keterputusan dari dunia luar. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

