:strip_icc()/kly-media-production/medias/5412120/original/029399600_1763033945-Untitled.jpg)
Repelita Tel Aviv - Presiden Israel Isaac Herzog mengecam keras serangan pemukim Yahudi terhadap warga Palestina di Tepi Barat pada Selasa, 11 November 2025, menyatakan tindakan tersebut sebagai kejadian serius yang jarang mendapatkan kecaman dari pejabat tinggi Israel.
Herzog menekankan bahwa kekerasan oleh segelintir pemukim telah melewati batas yang dapat diterima dan menyerukan seluruh otoritas negara bertindak tegas untuk menumpas fenomena tersebut.
Pernyataan Herzog muncul setelah puluhan pemukim Israel bertopeng menyerang desa Beit Lid dan Deir Sharaf, membakar kendaraan dan properti, sebelum bentrok dengan tentara Israel.
Posisi Herzog yang sebagian besar bersifat seremonial dimaksudkan sebagai kompas moral sekaligus simbol persatuan bagi negara di tengah meningkatnya kekerasan pemukim.
Kepala Staf Angkatan Darat Israel Eyal Zamir menyatakan bahwa militer tidak akan menoleransi tindakan kriminal minoritas yang mencoreng masyarakat yang taat hukum dan mengganggu misi pasukan di lapangan.
Komandan Komando Pusat Militer Israel Mayor Jenderal Avi Bluth menegaskan bahwa penanganan kelompok anarkis menyita sumber daya besar yang seharusnya digunakan untuk operasi keamanan dan kontra-terorisme.
Menurut laporan militer, para pemukim yang menyerang desa melarikan diri ke zona industri terdekat dan menyerang tentara, merusak kendaraan militer, sementara empat warga Israel ditangkap dan empat warga Palestina terluka.
Polisi Israel menyatakan tiga tersangka dibebaskan dan satu anak di bawah umur tetap ditahan enam hari untuk dugaan pembakaran dan penyerangan, sementara tindakan terhadap tiga orang lainnya masih diselidiki untuk proses hukum.
Serangan Selasa itu menjadi bagian dari serangkaian aksi kekerasan pemukim muda yang meningkat sejak perang di Gaza dua tahun lalu, khususnya selama musim panen pohon zaitun warga Palestina.
Kantor kemanusiaan PBB mencatat lebih dari 260 serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat sepanjang Oktober 2025, jumlah tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2006.
Warga Palestina dan pegiat hak asasi manusia menuding aparat Israel gagal menghentikan serangan, sementara pemerintah didominasi tokoh sayap kanan pendukung gerakan pemukim, termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir.
Muayyad Shaaban, Kepala Komisi Perlawanan terhadap Permukiman dan Tembok Otoritas Palestina, menyebut para pemukim membakar truk susu, lahan pertanian, gubuk seng, dan tenda komunitas Badui sebagai bagian kampanye untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka.
Ia menuntut sanksi terhadap kelompok yang mensponsori dan mendukung proyek terorisme kolonial pemukiman. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

