
Repelita Jakarta - Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto, mengkritik rencana redenominasi rupiah yang dianggapnya belum mendesak dan berpotensi membingungkan masyarakat.
Darmadi menyampaikan penolakan terhadap kebijakan pemotongan nol pada mata uang rupiah, dengan alasan ekonomi nasional saat ini belum stabil dan inflasi serta nilai tukar rupiah masih fluktuatif.
Menurutnya, jika redenominasi dipaksakan sekarang, hal itu bisa menimbulkan kepanikan di kalangan pelaku pasar karena timing yang dinilai salah.
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut tidak memberikan manfaat ekonomi nyata, tidak memperkuat industri, tidak menarik investasi, dan tidak meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Rakyat, menurut Darmadi, lebih membutuhkan stabilitas harga daripada perubahan angka di mata uang yang dianggap elitis dan tidak menyentuh kebutuhan pokok masyarakat.
Dampak domino yang mungkin terjadi meliputi kekacauan harga, kerugian bagi UMKM dan pedagang pasar, serta kebingungan massal yang dapat memicu inflasi diam-diam dan peluang penipuan harga.
Ia juga memperingatkan biaya besar yang harus dikeluarkan, termasuk penggantian papan harga, mesin ATM, sistem perbankan, label toko, dan pencetakan uang baru, yang totalnya mencapai triliunan rupiah hanya untuk memangkas nol tiga digit.
Selain itu, Darmadi menekankan risiko persepsi pasar global yang bisa menafsirkan redenominasi sebagai indikasi masalah ekonomi Indonesia, berpotensi memicu capital outflow dan pelemahan rupiah.
Ia menegaskan bahwa psikologi pasar Indonesia sangat sensitif dan perubahan satuan harga bisa menimbulkan risiko serius bagi stabilitas ekonomi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

