Repelita Samarinda - Seorang anak laki-laki berinisial R berusia dua belas tahun meninggal dunia dalam kondisi yang tidak wajar setelah pulang ke rumah sambil menangis dan mengeluhkan rasa sakit di kepalanya.
Keluarga korban kini memiliki dugaan kuat bahwa kematiannya berkaitan dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh teman sebayanya.
Ibu kandung korban bernama Sartia yang berusia empat puluh satu tahun menuturkan kronologi kejadian saat R pulang pada pukul sembilan malam waktu setempat.
Dia baru datang jam 9 malam, pulang sambil menangis, katanya kepalanya sakit. Saya pikir cuma sakit kepala biasa, jadi saya kasih minyak kayu putih, ujar Sartia di Polresta Samarinda pada Kamis 6 November 2025.
Korban menolak untuk mengonsumsi makanan maupun minuman yang diberikan kepadanya meski sudah dibujuk dengan berbagai cara.
Beberapa jam kemudian kondisi kesehatan R semakin memburuk dengan tanda-tanda yang mengkhawatirkan.
Saya panggil-panggil, enggak ada respons. Sekitar jam setengah satu malam, terdengar suara ngorok, tak lama kemudian dia meninggal, kata Sartia dengan suara bergetar.
Jenazah kemudian dibawa ke rumah orang tua Sartia untuk prosesi pemakaman sesuai adat yang berlaku.
Keesokan harinya keluarga mulai memperhatikan adanya tanda-tanda mencurigakan seperti busa di mulut dan darah yang keluar dari hidung.
Terdapat pula lebam di bagian belakang tubuh serta pembengkakan di area mata yang sebelumnya tidak disadari.
Pamannya bilang, ‘Anak ini habis jatuh atau gimana? Kok ada luka lebam di belakangnya?’ Padahal dia enggak pernah jatuh, ucap Sartia.
Awalnya keluarga sama sekali tidak menaruh curiga dan menganggap kematian tersebut disebabkan oleh penyakit alamiah.
Tiga hari setelah proses pemakaman muncul unggahan melalui aplikasi percakapan dari teman korban yang isinya mencurigakan.
Unggahan tersebut berbunyi, “Saya ikhlas kepergianmu, tapi tidak ikhlas dengan cara kematianmu.”
Pesan tersebut memicu kecurigaan keluarga sehingga mengadakan pertemuan dengan pihak RT keluarga pelaku dan para saksi.
Tante saya bilang, katanya malam itu anak saya dipukuli. Waktu dikumpul, orang tua pelaku malah bilang ‘Anakmu di luar kayak apa’. Saya langsung marah. Anak saya dikenal baik sama warga, tuturnya.
Berdasarkan keterangan dari saksi mata peristiwa kekerasan diduga terjadi di rumah seorang teman berinisial A.
Saat itu korban disebut menerima tantangan dari S yang berusia dua belas tahun dan kini diduga sebagai pelaku utama.
Kata saksi, anak saya ditantang, ‘Berani nggak lawan saya?’ Anak saya jawab, ‘Beranilah, sama-sama makan nasi.’ Setelah itu, anak saya dipukul di kepala dan ditendang tiga kali di perut, ujar Sartia.
Korban pulang ke rumah dengan kondisi fisik yang sangat menyakitkan dan meninggal beberapa jam kemudian.
Sartia akhirnya melaporkan kasus ini ke Polresta Samarinda pada tanggal 3 November 2025 setelah mendapatkan informasi lengkap dari saksi.
Waktu itu tidak ada visum, karena kami tidak curiga. Baru setelah ada yang cerita, saya lapor ke polisi, jelasnya.
Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Kalimantan Timur turut memberikan pendampingan kepada keluarga korban.
Ketua TRC PPA Kaltim Rina Zainun menyatakan pihaknya memberikan bantuan psikologis dan hukum yang diperlukan.
Kami akan memfasilitasi bantuan psikolog untuk ibunya yang masih sangat terpukul, kata Rina.
Mereka juga membantu proses pengajuan otopsi mengingat jenazah telah dimakamkan tanpa pemeriksaan medis sebelumnya.
Keluarga awalnya tidak curiga, jadi tidak dilakukan visum. Tapi karena ada dugaan kekerasan, kami bantu proses otopsi agar penyebab kematian lebih jelas, ujarnya.
Rina menambahkan bahwa keluarga korban menolak segala bentuk upaya perdamaian yang ditawarkan oleh keluarga pelaku.
Keluarga korban memilih melanjutkan kasus ini secara hukum, tegasnya.
Proses hukum kini sedang berjalan dengan pemeriksaan terhadap semua pihak yang terlibat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

