Repelita Jakarta - Gelombang banjir bandang disertai longsor dahsyat yang menerpa Aceh Sumatera Utara dan Sumatera Barat sejak 24 November 2025 telah menewaskan 104 jiwa hingga Jumat 28 November 2025 dengan 79 warga lain masih hilang serta puluhan ribu keluarga mengungsi akibat kerusakan infrastruktur parah di berbagai kabupaten.
Di tengah kesedihan mendalam yang melanda masyarakat Pulau Sumatera kini kembali beredar luas rekaman video pidato Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia yang menyuarakan keheranan atas penolakan keras terhadap pembukaan lahan hutan dan penggalian tambang demi kemajuan ekonomi nasional.
Video tersebut direkam saat Bahlil menjadi narasumber kunci di Jakarta Geopolitical Forum ke-9 bertajuk Geoeconomic Fragmentation and Energy Security yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta pada Selasa 24 Juni 2025.
Bahlil mengakui rasa bingungnya mengapa Indonesia yang baru menggarap potensi sumber daya alamnya untuk kesejahteraan rakyat justru menghadapi protes dari berbagai kalangan.
Ia membandingkan situasi saat ini dengan negara-negara maju yang pada masa awal industrialisasi mereka di dekade 1940-an hingga 1960-an juga melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap hutan dan tambang.
Sebagian negara-negara lain pada saat mereka di era 40-an, 50-an, 60-an, mereka kan punya hutan banyak juga, mereka punya tambang juga banyak, semuanya mereka banyak, pada saat itu negara mereka belum maju seperti sekarang, ungkap Bahlil dalam pidatonya.
Menurutnya dampak kerusakan lingkungan dari pengelolaan sumber daya alam justru lebih buruk di negara-negara tersebut dibandingkan upaya Indonesia yang kini lebih berhati-hati meski masih dalam tahap berkembang.
Maka mereka mengambil sumber daya alam mereka itu, hutannya dibabat, tambangnya diambil, dan mungkin lingkungannya pada saat itu, wallahu a’lam ya, mungkin tidak lebih baik dari apa yang kita lakukan sekarang, lanjutnya.
Sebagai Ketua Umum Partai Golkar Bahlil mempersoalkan mengapa saat negara maju dulu melakukan hal serupa tidak ada protes global sementara Indonesia kini dianggap mengusik kepentingan pihak luar.
Pertanyaan saya, siapa yang memprotes mereka di saat itu, sekarang negara kita negara-negara berkembang yang punya sumber daya alam yang baru memulai untuk berpikir ada nilai tambah, untuk kemudian bisa menyejahterakan rakyatnya, untuk bisa membangun, kok ada yang merasa terganggu. Ada apa di balik itu, tanyanya dengan nada curiga.
Ia menegaskan bahwa kedaulatan setiap negara dalam mengelola sumber daya alamnya harus dihormati tanpa intervensi asing agar semua bangsa memiliki peluang setara menuju kemakmuran melalui pendekatan masing-masing.
Negara-negara di dunia ini harus dihargai kedaulatan kemerdekaannya, tidak boleh ada satu negara yang merasa lebih berhak, lebih kuat daripada negara lain, karena kita harus membangun kesepahaman bahwa berdiri sama tinggi, duduk sama rendah di mata dunia dalam mengelola sumber daya alam kita, ini harus dibangun, tegas Bahlil menutup argumennya.
Rekaman pidato itu kini viral lagi di tengah bencana Sumatera yang diduga dipicu oleh kerusakan ekosistem hutan akibat aktivitas pertambangan dan perkebunan sawit ilegal meski Bahlil menekankan bahwa eksploitasi tersebut esensial untuk pembangunan nasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

