
Repelita Jakarta - Seorang tokoh politik berpengalaman bernama Amien Rais menyampaikan refleksi mendalam mengenai keadaan nasional saat memperingati Hari Pahlawan pada 10 November 2025, di mana ia mengkritik hilangnya esensi perjuangan leluhur yang penuh pengorbanan dan keberanian sebagai fondasi berdirinya negara, sementara perilaku merusak seperti penyalahgunaan kekuasaan kini merajalela di hampir setiap tingkatan masyarakat dan institusi publik.
Pendapat tajam dari Amien Rais disampaikan melalui kanal pribadinya di platform video, di mana ia menekankan bahwa semangat heroik para pejuang masa lalu, yang ditandai dengan ketabahan menghadapi penindasan asing, kini seolah tergerus oleh kemerosotan nilai-nilai etis yang membuat bangsa kehilangan arah moral dalam menghadapi tantangan kontemporer.
Ia merujuk pada peristiwa bersejarah krusial seperti pertempuran sengit di Surabaya pada tahun 1945 serta fatwa jihad dari kalangan ulama yang menjadi pendorong utama semangat rakyat untuk mempertahankan kedaulatan, yang semuanya mencerminkan komitmen total untuk melindungi martabat bangsa dari ancaman eksternal yang mengintai.
Namun sayang sekali, semangat melawan kebatilan dan penindasan di abad ke-21 ini terasa menurun. Yang meningkat justru semangat berlomba-lomba di bidang korupsi sampai muncul “liga korupsi Indonesia” yang amat memalukan bangsa.
Menurut evaluasinya yang kritis, prinsip-prinsip keberanian dan pengabdian tersebut jarang lagi menjadi panduan utama dalam kehidupan sehari-hari, di mana generasi saat ini cenderung mengabaikan teladan historis demi mengejar kepentingan pribadi yang sering kali bertentangan dengan kepentingan kolektif bangsa.
Yang kita lihat hanyalah lomba pidato pemberantasan korupsi; tetapi di lapangan korupsi tetap membuncah, membanjir, dan meluas.
Amien Rais menyoroti bahwa pelaku-pelaku tindakan tidak bermoral tersebut kini bertindak tanpa rasa bersalah atau ketakutan akan konsekuensi, bahkan mengintegrasikan praktik tersebut ke dalam dinamika permainan kekuasaan dan transaksi ekonomi, yang secara keseluruhan menggambarkan degradasi etika sosial serta ketidakpedulian terhadap warisan perjuangan para founding fathers.
Situasi semacam itu, lanjutnya, menimbulkan kekhawatiran bahwa individu-individu yang mengkhianati nilai inti kemerdekaan mungkin telah melebihi jumlah tokoh-tokoh sejati yang rela mengorbankan nyawa demi cita-cita bersama, sebuah fenomena yang patut menjadi alarm bagi kesadaran kolektif masyarakat.
Bagi Amien Rais, esensi menjadi seorang pahlawan tidak terbatas pada keberanian dalam pertempuran fisik, melainkan mencakup kesiapan total untuk mengorbankan segala hal demi visi besar yang memprioritaskan kesejahteraan rakyat dan keadilan universal, yang harus terus dihidupkan kembali di tengah arus modernisasi yang penuh godaan.
Melalui momen peringatan Hari Pahlawan ini, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengadopsi kembali energi perlawanan dari era pra-kemerdekaan, sambil menolak keras segala bentuk pengkhianatan yang melemahkan fondasi ideologis negara, agar generasi mendatang tidak kehilangan arah dalam membangun peradaban yang bermartabat.
Amien Rais menutup pemikirannya dengan penegasan bahwa suatu negara yang layak disebut agung adalah negara yang selalu mengenang pelajaran sejarah dengan hormat, tidak pernah memberi ruang bagi korupsi untuk berkembang biak, serta gigih memperjuangkan pemerataan keadilan sosial bagi setiap lapisan warga tanpa pandang bulu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

