
Repelita Jakarta - Pengamat politik Adi Prayitno memberikan penjelasan mengenai alasan mengapa video yang menampilkan salaman Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan empat Ketua Umum Partai Politik (Parpol) menjadi pusat perhatian publik.
Adi menekankan bahwa fenomena ini berkaitan dengan budaya politik ketimuran yang berlaku di Indonesia, di mana bersalaman menjadi simbol keakraban dan rasa hormat antarpejabat maupun tokoh masyarakat.
“Pertama yang ingin saya katakan adalah, kenapa ini menjadi ramai? Tentu, soal salaman dan tidak salaman. Ini adalah budaya politik ketimuran yang ada di Indonesia,” ucap Adi dikutip dari kanal YouTube Adi Prayitno Official, Rabu (13/8/2025).
Dosen Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah tersebut menjelaskan bahwa bersalaman bukan hanya berlaku di acara formal, tetapi juga di kegiatan informal, karena masyarakat Indonesia secara umum menunjukkan kesopanan dan interaksi sosial melalui jabat tangan.
“Jadi dalam event apapun, jangankan acara formal, informal sekalipun masyarakat kita secara umum bertemu satu sama lain bersalaman,” terangnya.
Adi menambahkan bahwa tradisi ini mencerminkan hubungan atau chemistry yang terbangun antara individu yang bersalaman, sehingga interaksi semacam itu menjadi sorotan ketika melibatkan tokoh publik.
Karenanya, fenomena salaman antara Gibran dengan empat Ketum Parpol tersebut memicu perhatian yang luas dan beragam tafsir di kalangan masyarakat.
“Wajar ini menjadi ramai, dan menimbulkan tafsir yang saya kira cukup luar biasa,” ucapnya.
Ia menyoroti bahwa salah satu faktor yang menimbulkan spekulasi adalah konteks politik menjelang Pemilu 2029, di mana keempat Ketua Umum Parpol tersebut sama-sama memiliki peluang untuk maju dalam kontestasi politik mendatang.
“Apa salah satunya, ini jangan-jangan mengindikasikan ada persaingan politik menuju 2029 yang sudah dimulai saat ini,” ujarnya.
Adi menekankan bahwa bagi ketua umum partai seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Zulkifli Hasan, Bahlil Lahadalia, dan Muhaimin Iskandar, posisi mereka saat ini membuat publik menilai kemungkinan persaingan politik sejak dini, terutama karena ambang batas 20 persen untuk calon presiden sudah mulai dihapuskan.
“Karena bagi ketua umum partai, seperti AHY, Zulkifli Hasan, Bahlil Lahadalia, Cak Imin adalah sosok yang sangat mungkin bisa maju di 2029. Mengingat ambang batas 20 persen itu sudah mulai dihilangkan,” tambahnya.
Namun, ia menyoroti perbedaan interaksi antara Gibran dan ketiga Ketum lain yang cenderung tidak terlalu menimbulkan kontroversi, karena publik menilai kedekatan mereka dengan Presiden Jokowi maupun Gibran tidak menimbulkan konflik persepsi.
“Di antara empat ketua umum partai politik yang notabenenya adalah menteri Kabinet Merah Putih, sebenarnya publik itu tidak terlampau riskan, tidak terlalu resisten,” jelasnya.
Ia memberi contoh bahwa Zulkifli Hasan, Muhaimin Iskandar, maupun Bahlil Lahadalia tidak menghadapi sorotan yang sama, karena kedekatan Bahlil dengan Jokowi dan Gibran sudah dikenal luas.
Berbeda halnya dengan AHY, yang interaksi dengan Gibran selalu dipersepsikan sebagai bentuk rivalitas politik, sehingga setiap momen pertemuan atau salaman keduanya kerap dikaitkan dengan persaingan politik.
“Tapi agak beda dengan berbicara Gibran dan AHY, ini seakan-akan korespondensi persaingan politiknya selalu muncul ya,” ungkapnya.
Menurut Adi, sejak awal publik dan analis politik sudah menilai bahwa AHY dan Gibran memiliki posisi yang bisa dibandingkan sebagai calon tokoh politik yang potensial di Pemilu 2029.
“Ini tentu tidak lepas dari sejak awal, banyak sekali prediksi sudah terbangun rivalitas antara Partai Demokrat yang dalam hal ini ketua umumnya AHY, dengan Gibran Rakabuming Raka,” katanya.
Lebih spesifik, perbandingan keduanya sering dilihat dalam konteks calon wakil presiden, di mana keduanya dianggap memiliki peluang untuk mendampingi tokoh politik lain dalam kontestasi 2029.
“Terutama persaingannya menuju pemilihan presiden di 2029, terutama dalam konteks calon wakil presiden yang konon diproyeksikan sangat mungkin untuk bisa mendampingi Pak Prabowo Subianto,” pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

