Repelita Bandung - Mahasiswa mulai mereaksi 100 hari pemerintahan Prabowo Subianto dengan menggelar aksi demonstrasi di berbagai kota. Mereka mengkritisi kebijakan Prabowo yang dinilai tidak jelas dan lebih banyak omong kosong (omon-omon) ketimbang bukti nyata. Hal ini disampaikan oleh M Rizal Fadillah, pemerhati politik dan kebangsaan, dalam analisisnya.
Meskipun Prabowo pernah terserang stroke, harapan rakyat agar ia konsisten pada sumpah jabatannya untuk berbuat demi rakyat, bukan kepentingan diri atau kroni, masih dipertanyakan. Rizal Fadillah menilai kebijakan Prabowo tidak terarah, mudah marah, dan terkesan ciut nyali ketika berhadapan dengan figur seperti Jokowi.
Rekor baru tercipta ketika Presiden dengan masa jabatan baru 100 hari sudah didemonstrasi. Mahasiswa menilai pemerintahan Prabowo memiliki masalah serius. Alasan miskomunikasi yang dilontarkan oleh lingkaran dalamnya dianggap sebagai pembelaan yang lemah.
Dalam aksi tersebut, foto Prabowo dan Gibran dibakar. Tidak ketinggalan, foto Mayor Teddy juga ikut dibakar. Teddy, yang semakin aktif memfungsikan diri sebagai "orang berpengaruh", dianggap melengkapi "duo bocil" dalam pemerintahan Prabowo, yaitu Gibran dan Teddy.
Aksi mahasiswa dipicu oleh teriakan "hidup Jokowi" dan "Ndasmu", yang menegaskan bahwa Prabowo tidak bisa dipisahkan dari Jokowi. Hal ini membuat harapan untuk perubahan pola pemerintahan terdahulu pupus. Rizal Fadillah menilai Prabowo meledak-ledak dalam pidato namun kehilangan arah, berpotensi menimbulkan blunder besar di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Mahasiswa menyebut kondisi ini sebagai "Indonesia gelap". Bahkan, ada celetukan "habis gelap terbitlah gelap gulita". Dalam 100 hari kekuasaannya, Prabowo dinilai tidak mampu membangun fondasi yang kokoh untuk kemajuan ke depan. Kebijakan efisiensi justru beradu dengan potensi korupsi, menciptakan bahan tertawaan.
Gerakan aksi mahasiswa diprediksi akan membesar tergantung sikap Prabowo. Jika represif, aksi akan meluas dan membuka peluang Prabowo tumbang. Namun, aksi bisa diredam jika Prabowo mengambil langkah nyata seperti reshuffle menteri, mencabut PSN PIK 2, memberikan sanksi kepada Aguan, mengeluarkan Perppu Pimpinan KPK, mengganti Kapolri, dan mengizinkan penyelidikan dugaan kolusi, korupsi, dan nepotisme Jokowi.
100 hari pemerintahan Prabowo telah menimbulkan reaksi keras. Banyak rakyat meyakini kursi kepresidenannya didapat dengan cara curang. Mahasiswa dan kekuatan oposisi lainnya mengkritisi bahkan melawan koalisi Jokowi-Gibran-Prabowo, yang dinilai merepresentasikan rezim bobrok dan kebobrokan berkelanjutan.
Setelah grafiti "adili Jokowi" bermunculan, kini Prabowo mendapat serangan langsung. Mahasiswa melihat potensi kegelapan di era Prabowo-Gibran. Rezim dan para pendukungnya berdalih bahwa 100 hari masih terlalu singkat, namun mahasiswa menilai Prabowo gagal membangun fondasi perbaikan yang kokoh.
Muak dengan dalih sabar atau strategi, mahasiswa menuntut perubahan nyata. Mereka mewakili aspirasi rakyat yang cerdas dan merdeka.
Beberapa netizen memberikan tanggapan terkait aksi ini.
"Prabowo harus buktikan kinerja, bukan cuma omong doang," tulis @AhmadFauzi.
"Mahasiswa selalu jadi garda terdepan melawan kebobrokan," komentar @SitiNurhaliza.(*).
Editor: 91224 R-ID Elok

