
Repelita Paris - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pada hari Jumat 13 Maret 2026 bahwa serangan pesawat tak berawak di Irak Utara menewaskan seorang tentara Prancis, dan menyebut insiden itu "tidak dapat diterima" dan bahwa posisi Prancis di wilayah tersebut adalah "defensif."
Macron mengatakan dalam konferensi pers dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di Paris bahwa ia telah meminta agar dilakukan analisis militer lengkap terhadap serangan tersebut.
Seorang tentara Prancis tewas dan enam lainnya terluka setelah serangan pesawat tak berawak di Irak utara yang sebelumnya dikatakan oleh Presiden Emmanuel Macron tidak dapat diterima dan tidak dapat dibenarkan.
"Chief Warrant Officer Arnaud Frion dari Batalion 7th Alpine Chasseurs dari Varces… gugur demi Prancis dalam serangan di dekat Erbil di Irak," kata Macron di platform X.
Tentara itu dan lima rekannya terluka dalam serangan terhadap pangkalan militer di Provinsi Erbil, Irak saat sedang memberikan pelatihan kontra-terorisme.
Macron menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan menyatakan solidaritas bangsa Prancis kepada rekan-rekan seperjuangannya.
Ia mengatakan kehadiran pasukan Prancis di Irak sepenuhnya sesuai dengan perjanjian kontra-terorisme dan situasi di Iran tidak bisa membenarkan serangan semacam itu.
Sebelumnya kelompok pro-Iran di Irak yang menamakan diri Ashab Alkahf telah memperingatkan bahwa kepentingan Prancis di negara itu akan menjadi sasaran setelah kedatangan kapal induk Prancis ke area operasi Komando Pusat Amerika .
Kelompok tersebut menyampaikan peringatan melalui saluran Telegram miliknya dan meminta pasukan keamanan Irak untuk menjauhi pangkalan yang menampung pasukan Prancis.
Iran terus menyerang wilayah Israel dan target militer Amerika Serikat di Timur Tengah sebagai balasan terhadap operasi militer gabungan AS-Israel pada 28 Februari.
Serangan hari pertama itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sedikitnya 165 murid sekolah putri di Kota Minab.
Jumlah korban tewas di Negeri Para Mullah itu diperkirakan telah mencapai lebih dari 1.200 orang sejak konflik meletus dua pekan lalu.
Serangan terhadap pangkalan militer di Erbil ini menambah daftar panjang eskalasi konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.
Prancis memiliki ratusan tentara yang ditempatkan di wilayah Erbil sebagai bagian dari koalisi internasional untuk memerangi kelompok ISIS.
Keberadaan pasukan Prancis di Irak telah berlangsung sejak 2015 dalam kerangka operasi kontra-terorisme yang disetujui pemerintah Irak.
Komandan Pasukan Kurdi Sirwan Barzani menyebut serangan terhadap tentara Prancis sebagai "tindakan terorisme yang tidak adil" dan mendesak pemerintah Irak untuk mencegah insiden serupa di masa depan.
Hingga kini belum ada pihak yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone yang menewaskan tentara Prancis tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

