Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Poros Baru Melawan Barat: Rusia-China-Korut Siap Gabung Iran Lawan AS dan Israel, Apa Dampak bagi Dunia?

 

Repelita Jakarta - Konflik Iran melawan Amerika Serikat serta Israel yang memasuki hari kedelapan memunculkan kekhawatiran serius tentang potensi perluasan menjadi perang global.

Para analis dan mantan pemimpin dunia menyoroti kemungkinan keterlibatan Rusia China serta Korea Utara di pihak Teheran sebagai faktor pemicu eskalasi lebih luas.

Ketua Dewan Pakar HIMPUH Alip Setyo Wibowo menyatakan bahwa konflik ini berpotensi berlangsung panjang dengan intensitas naik turun berdasarkan analisis geopolitik terkini.

Peta dukungan global mulai terbentuk dengan Iran kemungkinan mendapat bantuan dari poros baru Rusia China serta Korea Utara dalam berbagai bentuk.

Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono secara khusus mengingatkan bahaya jika negara NATO terlibat karena dapat memicu respons dari kekuatan besar lain.

Ia menekankan bahwa keterlibatan Rusia China serta Korea Utara akan membuat situasi jauh lebih berbahaya dan berharap hal itu dapat dicegah.

Korea Utara menunjukkan sikap paling provokatif dengan pernyataan Pemimpin Kim Jong-un yang menyatakan entitas Zionis akan lenyap pada waktunya.

Kim Jong-un menawarkan rudal nuklir ke Iran dengan klaim satu rudal saja cukup untuk menghancurkan Israel.

Pyongyang meluncurkan tiga rudal balistik antarbenua Hwasong-20 serta menguji rudal jelajah nuklir dari kapal perusak Choi Hyon.

Analis Paul Ingram mencatat bahwa Kim semakin percaya diri setelah hubungan erat dengan Rusia termasuk pasokan amunisi untuk konflik Ukraina.

Rusia mengambil sikap tegas meski hati-hati dengan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menyatakan akan menghentikan invasi AS serta Israel ke Iran.

Lavrov menegaskan bahwa Rusia bersama negara pencinta damai akan berupaya membuat operasi tersebut menjadi mustahil.

Ia mengkhawatirkan keterlibatan NATO yang sedang ditarik ke dalam perang oleh AS serta Israel.

Presiden Vladimir Putin mengancam menghentikan pasokan gas ke negara Eropa pendukung AS sebagai senjata ekonomi yang dapat melumpuhkan kawasan.

China mengambil pendekatan paling hati-hati dengan membatasi kerja sama militer dengan Iran sesuai prinsip tidak ikut campur urusan negara lain.

Peneliti Jodie Wen menyatakan bahwa China tidak akan mengirim senjata ke Iran meski stabilitas Selat Hormuz tetap prioritas utama Beijing.

Negara-negara Arab Teluk berada dalam posisi sulit karena merasa dibiarkan menghadapi serangan balasan Iran tanpa bantuan memadai dari AS.

Pejabat dari dua negara Teluk menyatakan kekecewaan karena tidak diberi pemberitahuan sebelum serangan AS-Israel dan dampaknya menghancurkan kawasan.

Arab Saudi UEA Kuwait serta Qatar membahas penarikan diri dari kontrak investasi dengan AS untuk mengurangi tekanan ekonomi akibat perang.

Hasan Alhasan menilai serangan Iran ke negara Teluk membawa pesan bahwa tidak ada pihak yang aman dan mediasi tidak memberikan perlindungan.

Jika Rusia China serta Korea Utara bergabung dengan Iran dampaknya akan bersifat global termasuk krisis energi dengan harga minyak berpotensi mencapai seratus lima puluh dolar per barel.

Sanksi ekonomi total dari Barat dapat memicu fragmentasi ekonomi dunia sementara perang proksi muncul di berbagai kawasan.

Risiko penggunaan senjata nuklir meningkat signifikan dengan keterlibatan negara pemilik nuklir serta ancaman inflasi serta krisis pangan global.

Laporan World Population Review 2026 mencatat dua puluh dua negara berisiko tinggi terlibat jika Perang Dunia III meletus termasuk Iran AS Israel Rusia China serta Korea Utara.

Indonesia berada dalam kategori risiko sedang dengan skor Global Firepower Index nol koma dua ratus lima puluh enam.

Susilo Bambang Yudhoyono berharap adanya deeskalasi serta pengendalian diri agar situasi tidak semakin memburuk.

Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyatakan bahwa pintu diplomasi masih terbuka meskipun perang sedang berlangsung.

Perundingan di Geneva sebelumnya mencapai kemajuan nyata dan harapan perdamaian tidak boleh padam meskipun konflik terjadi.

Dunia kini berada di persimpangan berbahaya dengan retorika memanas ancaman nuklir serta frustrasi negara Arab terhadap AS.

Pertanyaan utama tetap apakah diplomasi mampu mencegah skenario terburuk sebelum terlambat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved