
Repelita Jakarta - Pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei mengeluarkan pernyataan keras pertamanya sejak resmi menjabat menggantikan ayahnya yang tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi pemerintah Iran pada Kamis 12 Maret 2026, Mojtaba menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam atas kematian ayahnya serta ratusan korban lain yang ia sebut sebagai syuhada.
Kami tidak akan mengabaikan pembalasan atas darah para martir yang telah gugur dalam agresi militer yang dilancarkan terhadap bangsa Iran, tegas Mojtaba dalam pernyataan yang dibacakan oleh penyiar karena pemimpin tertinggi itu tidak tampil langsung di layar kaca.
Selain ancaman balasan militer, Mojtaba juga menyampaikan pesan keras terkait jalur energi strategis dunia dengan menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai alat untuk menekan musuh.
Pernyataan tersebut berpotensi mengguncang pasar energi global karena Selat Hormuz merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak bumi internasional .
Pemimpin tertinggi Iran itu juga memperingatkan negara-negara Teluk yang selama ini menampung pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka.
Menurut Mojtaba, Iran tidak akan ragu menyerang semua pangkalan militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah apabila fasilitas tersebut tidak segera ditutup oleh negara-negara setempat .
Negara-negara di kawasan harus menutup pangkalan militer AS, jika tidak kami akan dipaksa untuk menyerang mereka, demikian bunyi pernyataan yang disampaikan dalam pidato tersebut .
Pernyataan keras ini muncul di tengah situasi perang yang masih berkecamuk di kawasan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut tidak hanya menewaskan pemimpin tertinggi sebelumnya Ali Khamenei, tetapi juga sejumlah anggota keluarganya termasuk istri, anak, menantu, hingga cucunya yang berada di lokasi yang sama saat pemboman kompleks di pusat Teheran terjadi .
Mojtaba sendiri sempat dikabarkan mengalami luka dalam serangan udara tersebut dan hingga kini belum pernah tampil di hadapan publik sejak pengangkatannya sebagai pemimpin tertinggi.
Duta Besar Iran untuk Siprus Alireza Salarian mengungkapkan bahwa Mojtaba berada di lokasi yang sama saat pengeboman dan mengalami luka di bagian kaki, tangan, serta lengannya .
Saya mendengar bahwa beliau terluka di bagian kaki, tangan, dan lengannya, saya kira beliau kini berada di rumah sakit karena cedera yang dideritanya, ujar Salarian dalam wawancaranya dengan The Guardian .
Namun penasihat pemerintah Iran Yousef Pezeshkian yang juga putra Presiden Iran menyebut kondisi pemimpin tertinggi itu tetap aman dan sehat meski mengalami luka.
Saya mendengar kabar bahwa Tuan Mojtaba Khamenei terluka, saya bertanya kepada beberapa teman yang memiliki informasi dan mereka mengatakan syukurlah beliau aman dan sehat, tulis Pezeshkian melalui kanal Telegramnya pada Rabu 11 Maret 2026 .
Televisi pemerintah Iran sendiri menyebut pemimpin baru mereka sebagai veteran yang terluka dalam perang Ramadhan tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai kondisi kesehatannya .
Pengangkatan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran diputuskan oleh Assembly of Experts, lembaga beranggotakan 88 ulama Syiah yang memiliki kewenangan menunjuk dan mengawasi pemimpin tertinggi negara tersebut.
Sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba kini memegang otoritas politik dan keagamaan tertinggi di Iran sekaligus menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata negara itu.
Dalam pernyataannya yang pertama, Mojtaba juga menuntut ganti rugi perang dan mengancam akan menyita aset Amerika Serikat jika permintaan tersebut tidak dipenuhi.
Jika musuh menolak kami akan menyebanyak mungkin asetnya yang kami anggap pantas, dan jika itu tidak memungkinkan kami akan menghancurkan properti mereka dalam jumlah yang setara, demikian ancaman yang disampaikan pemimpin baru Iran tersebut .
Kematian Ali Khamenei dan pengangkatan putranya sebagai pemimpin baru memicu reaksi beragam baik di dalam negeri Iran maupun di tingkat internasional.
Di dalam negeri, sebagian masyarakat berkabung dan mengikuti serangkaian penghormatan nasional yang ditetapkan pemerintah selama 40 hari, namun di beberapa tempat muncul pula kelompok warga yang merayakan kabar tersebut di jalanan.
Di tingkat internasional, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan ketidaksenangannya atas penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin baru Iran.
Saya tidak senang, ujar Trump dalam wawancaranya dengan Fox News, ia juga meragukan apakah putra Khamenei itu dapat hidup dengan damai .
Trump bahkan menyebut keputusan Teheran menunjuk putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei sebagai sebuah kekeliruan fatal.
Mereka membuat kesalahan besar, saya ragu kepemimpinan itu akan bertahan lama, sekali lagi mereka membuat kesalahan besar, tegas Trump dalam wawancaranya dengan NBC News pada Senin 9 Maret 2026 .
Pergantian kepemimpinan ini tercatat sebagai yang ketiga sejak jabatan pemimpin tertinggi Iran dibentuk setelah Iranian Revolution, tokoh pertama yang memegang posisi tersebut adalah Ruhollah Khomeini, diikuti oleh Ali Khamenei yang memimpin hampir 37 tahun sebelum tewas dalam serangan udara.
Dengan munculnya kepemimpinan baru di Teheran yang mengusung garis keras serta ancaman balasan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya, situasi keamanan kawasan Timur Tengah diperkirakan akan semakin memanas dalam waktu dekat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

