Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Israel Mencekam! Hizbullah Bantai IDF di Perbatasan, Iran Bikin Warga Tel Aviv Kocar Kacir

 Gabungan visual konflik

Repelita Timur Tengah - Dua front pertempuran berkobar serempak pada Rabu, 11 Maret 2026, membuat Israel berada dalam tekanan terbesar sejak perang dengan Iran dan sekutunya dimulai.

Di utara, pejuang Hizbullah berhasil merebut sebuah kota strategis dan menewaskan puluhan tentara elite Israel dalam pertempuran sengit.

Di selatan, rudal Iran kembali menghujani Tel Aviv, membuat warga panik dan berlarian menyelamatkan diri ke tempat perlindungan.

Tentara Lebanon dan Hizbullah telah merebut beberapa kota termasuk Zarit di Israel utara dan membebaskannya dari pasukan pendudukan IDF ilegal selama serangan rudal Iran di seluruh Israel.

Dalam laporan yang dikutip dari media Zionis, ynetnews, Zarit, sebuah pemukiman Israel yang terletak hanya sekitar 300 meter dari perbatasan Lebanon, jatuh ke tangan pejuang Hizbullah pada Selasa, 10 Maret 2026 malam waktu setempat.

Pertempuran sengit terjadi selama berjam-jam setelah pasukan elite Hizbullah menyusup melewati pagar perbatasan dan mengepung posisi tentara Israel dari berbagai arah.

Laporan yang belum dikonfirmasi secara resmi menyebutkan lebih dari 93 tentara Israel telah kehilangan nyawa dan puluhan tentara IDF telah ditangkap oleh pejuang Hizbullah dalam operasi tersebut.

Sumber-sumber Lebanon menyebutkan bahwa jumlah korban di pihak Israel sangat besar dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Selain yang tewas, puluhan tentara lainnya dilaporkan terluka parah dan dilarikan ke rumah sakit di Safed dan Nahariya.

Sebagian besar korban berasal dari pasukan cadangan yang baru diterjunkan ke perbatasan utara pekan lalu untuk memperkuat pertahanan.

Hingga berita ini diturunkan, militer Israel belum mengonfirmasi angka pastinya karena sensor ketat masa perang.

Namun, militer mengakui telah terjadi "insiden keamanan yang kompleks" di dekat perbatasan Lebanon dan mengumumkan bahwa mereka sedang mengevakuasi korban serta memperkuat kehadiran pasukan di daerah tersebut.

Keberhasilan Hizbullah merebut Zarit merupakan pukulan telak bagi moral militer Israel yang selama ini dianggap superior.

Ini adalah pertama kalinya sejak Perang Lebanon 2006 sebuah kota Israel jatuh ke tangan pejuang Lebanon.

Juru bicara Hizbullah, dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa operasi ini adalah balasan atas serangan Israel ke pinggiran selatan Beirut pekan lalu yang menewaskan puluhan warga sipil tak berdosa.

Di selatan, situasi tak kalah mencekam dengan gelombang ke-34 rudal Republik Islam menghantam Tel Aviv dan sekitarnya pada Rabu, 11 Maret 2026 dini hari.

Target serangan kali ini meliputi pusat komunikasi satelit "Haela" di selatan Tel Aviv, yang merupakan penghubung utama antara pangkalan udara dan jet tempur Israel.

Sementara itu, video yang viral beredar di X dari Tel Aviv mengungkap kerusakan sebenarnya akibat serangan rudal Iran meskipun Israel menerapkan sensor ketat selama masa perang.

Pengguna X asal Tel Aviv, Israel, @Misa_Roumi mengungkapkan ketakutannya lewat unggahan video kondisi di mana warga panik dan berhamburan di jalanan.

"Malam yang sulit… kami belum pernah mengalami hal seperti itu, seolah-olah dunia akan berakhir," tuit Misa Roumi seperti dikutip dari akun X-nya, Rabu, 11 Maret 2026.

Dalam video yang diunggahnya, terlihat warga berhamburan keluar dari gedung-gedung dan berlarian menuju tempat perlindungan.

Serangan rudal Iran kali ini tidak hanya menimbulkan kepanikan, tetapi juga kerusakan infrastruktur yang signifikan dan melumpuhkan.

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya yang bernaung di bawah Angkatan Bersenjata Iran mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menargetkan kilang minyak, kilang gas, dan fasilitas penyimpanan bahan bakar milik musuh Zionis di Haifa, selain pusat komunikasi satelit di selatan Tel Aviv.

Pusat komunikasi satelit "Haela" yang dihantam oleh drone Iran dilaporkan hancur total tidak tersisa.

Juru bicara markas tersebut mengatakan bahwa pusat ini adalah salah satu hub komunikasi utama antara pangkalan udara dan jet tempur rezim Zionis.

Kehancurannya akan melumpuhkan koordinasi udara Israel untuk sementara waktu dalam beberapa hari ke depan.

Sementara itu, kilang Haifa dengan kapasitas 197.000 barel per hari, yang telah ditutup sementara pekan lalu sebagai tindakan pencegahan, kini mengalami kerusakan lebih parah.

Tim pemadam kebakaran masih berjibaku menjinakkan api di beberapa titik, dan operasi di fasilitas tersebut diperkirakan akan tetap terhenti selama beberapa minggu ke depan.

Tidak hanya Israel, pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan juga menjadi target serangan balasan.

Angkatan Darat Iran menambahkan bahwa pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) menargetkan markas besar pasukan Amerika Serikat yang agresor di Pangkalan Harir di Wilayah Kurdistan, Irak, dengan lima rudal.

Pangkalan Harir selama ini digunakan sebagai basis operasi drone dan pesawat tempur AS yang kerap melanggar wilayah udara Iran.

Serangan ini merupakan peringatan keras bagi Washington bahwa Iran tidak akan tinggal diam melihat agresi yang terus berlanjut.

Ketegangan di dua front ini terjadi di tengah perang yang telah memasuki hari ke-12 sejak dimulai.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan agresi militer skala besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei dan sejumlah komandan senior lainnya.

Sejak saat itu, Iran melancarkan operasi balasan dengan nama sandi "Janji Sejati 4" yang terus berlanjut hingga sekarang.

Diplomat-diplomat dari negara-negara Teluk telah melakukan kontak intensif dengan para pejabat Iran dalam upaya untuk menengahi dan mencegah konflik meluas lebih jauh.

Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda gencatan senjata dari kedua belah pihak yang bertikai.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah mengeluarkan pernyataan mendesak semua pihak untuk menghentikan kekerasan dan kembali ke meja perundingan.

"Kawasan ini tidak mampu menanggung perang habis-habisan lainnya," katanya dalam pernyataan resmi.

Di Washington, Presiden Donald Trump merespons dengan nada keras melalui media sosialnya.

"Jika Iran terus melanjutkan serangan ini, mereka akan menghadapi konsekuensi yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Trump di Truth Social.

Namun, pernyataan Trump kontras dengan laporan yang menyebutkan bahwa Angkatan Laut AS menolak permintaan pengawalan kapal tanker di Selat Hormuz karena risiko serangan Iran yang terlalu tinggi.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun retorika Washington keras, mereka sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan di lapangan.

Hizbullah berhasil merebut kota Zarit di Israel utara dan menewaskan sedikitnya 93 tentara IDF serta menawan puluhan lainnya.

Iran melancarkan gelombang ke-34 serangan rudal yang menghantam Tel Aviv, Haifa, dan pangkalan AS di Irak.

Kesaksian warga Tel Aviv menggambarkan situasi mengerikan di mana dunia seolah-olah akan berakhir.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved