Repelita Teheran - Iran menunjuk putra Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru yang mempertegas sikap Teheran untuk mempertahankan garis pertahanan dan tidak akan mengendurkan serangan terhadap musuh.
Mojtaba Khamenei memenangkan pemungutan suara di Majelis Pakar Iran sehingga dinobatkan menjadi pemimpin tertinggi menggantikan ayahnya yang telah berkuasa selama hampir 37 tahun.
Sebagaimana diketahui bersama bahwa Ali Khamenei tewas akibat serangan Amerika dan Israel pada 28 Februari 2026 yang mengejutkan dunia.
Analis Bloomberg Geoeconomics, Dina Esfandiary, menilai kepemimpinan Mojtaba berpotensi melanjutkan kebijakan keras ayahnya tanpa banyak perubahan berarti.
Sehingga di era pemimpin baru ini, Iran kemungkinan besar tidak akan mengubah arah kebijakan negara untuk terus melawan tekanan Barat.
"Mojtaba memiliki banyak kesamaan ideologis dengan ayahnya dan akan berupaya mempertahankan kesinambungan kebijakan, termasuk dalam perang yang sedang berlangsung," ujar Esfandiary dikutip dari Financial Post, Rabu, 11 Maret 2026.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sepakat untuk tidak akan menyerah dalam tekanan militer yang meningkat dari lawan.
"Gagasan bahwa kami akan menyerah tanpa syarat adalah mimpi yang harus mereka kubur selamanya," tegas Pezeshkian dalam pernyataan resminya.
Di sisi lain, Donald Trump mengkritik keras penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.
Trump juga menghadapi tekanan domestik agar tidak memperpanjang konflik, terutama karena harga minyak dunia melonjak berisiko memicu krisis inflasi baru.
Konflik di kawasan Timur Tengah kini telah memasuki pekan kedua dengan intensitas yang terus meningkat.
Amerika dan Israel masih melancarkan serangan ke wilayah Iran, sementara Teheran terus membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta sejumlah negara Teluk Arab.
Ketegangan geopolitik di kawasan itu turut memicu gejolak di pasar energi global yang sulit dikendalikan.
Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hampir 10 persen hingga menyentuh sekitar 102 dolar per barel.
Bahkan sempat mendekati 120 dolar per barel sebelumnya di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi dunia.
Lonjakan harga energi terjadi setelah Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran strategis dilaporkan mengalami gangguan operasional akibat konflik.
Jalur ini merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia yang dilalui jutaan barel setiap hari.
Situasi tersebut memaksa beberapa negara produsen minyak utama di Timur Tengah mengurangi produksi mereka.
Sumber yang mengetahui kebijakan tersebut mengatakan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak telah melakukan penyesuaian produksi akibat ketidakpastian di kawasan.
Eskalasi konflik ini juga memicu gejolak di pasar keuangan global yang dirasakan oleh banyak negara.
Pasar saham melemah, imbal hasil obligasi melonjak sedangkan dolar Amerika menguat ke level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir.
Hal ini seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak geopolitik dan lonjakan inflasi global yang tak terhindarkan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

