Repelita Jakarta - Perang antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat serta Israel telah memasuki hari kesembilan pada 8 Maret 2026 dengan kedua belah pihak terus saling mengklaim keberhasilan menghancurkan target musuh.
Meskipun mengalami serangan gabungan besar-besaran dari Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 Teheran tetap berdiri kokoh tanpa menunjukkan tanda-tanda menyerah.
Berbagai pejabat Iran menegaskan kesiapan menghadapi perang jangka panjang sekaligus menolak segala bentuk negosiasi dengan Amerika Serikat.
Militer Israel pada hari pertama konflik memperkirakan Iran memiliki sekitar dua ribu lima ratus rudal balistik meskipun jumlah tersebut diyakini telah berkurang drastis akibat serangan gabungan yang menghancurkan fasilitas penyimpanan amunisi.
Pengejaran terhadap peluncur rudal bergerak Korps Garda Revolusi Islam semakin intens namun belum jelas berapa banyak rudal yang sempat dipindahkan serta disebarkan sebelum perang pecah.
Militer Israel pada Rabu 4 Maret 2026 memperingatkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan signifikan untuk melancarkan serangan ke wilayah Israel.
IRGC diyakini mampu meningkatkan produksi drone dalam waktu singkat dengan kapasitas mencapai lima ribu unit per bulan menurut dokumen Rusia yang bocor.
Drone Shahed menjadi salah satu senjata utama dengan biaya produksi hanya beberapa ribu dolar per unit sehingga efektif digunakan dalam jumlah besar.
Profesor Hubungan Internasional Fawaz A Gerges dari London School of Economics menilai Iran berupaya memperpanjang konflik dengan strategi ketahanan serta penyerapan serangan.
Tujuan utama Teheran adalah bertahan lama sambil terus melancarkan perlawanan tanpa tergesa-gesa menyerah pada tekanan.
Analis The New York Times yang menggabungkan citra satelit serta video terverifikasi melaporkan IRGC mengerahkan rudal jarak pendek dan drone ke setidaknya tujuh pangkalan militer Amerika Serikat sepanjang akhir pekan hingga Senin 3 Maret 2026.
Serangan tersebut merusak fasilitas komunikasi serta sistem radar di sekitar pangkalan meskipun detail infrastruktur rahasia militer Amerika Serikat belum dapat dipastikan secara lengkap.
Pola serangan menunjukkan upaya Iran mengganggu koordinasi serta komunikasi militer Amerika Serikat di kawasan.
IRGC merilis rekaman peluncuran gelombang ke-26 rudal dalam Operasi True Promise 4 yang melibatkan serangan gabungan drone serta rudal ke berbagai lokasi di Israel.
Iran mengklaim sejumlah target berhasil dihantam dengan presisi tinggi menggunakan rudal generasi terbaru seperti Emad Ghadr serta Kheibar dengan hulu ledak majemuk.
Iran diperkirakan memiliki lebih dari tiga ribu rudal balistik sehingga menjadi salah satu kekuatan rudal terbesar di Timur Tengah dengan jangkauan dari tiga ratus kilometer hingga tiga ribu kilometer.
Mantan pilot F-16 TNI AU Marsma Purn Agung Sasongkojati menjelaskan perang dapat dilihat melalui empat instrumen kekuatan nasional yaitu formasi informasi militer serta ekonomi.
Agung menilai Amerika Serikat serta Israel berhasil mencapai output taktis dengan menghancurkan target utama termasuk pemimpin Iran namun gagal mencapai outcome strategis.
Target utama adalah membunuh Ayatollah Khamenei memicu kerusuhan rakyat menghentikan rudal balistik melemahkan proksi serta mengganti rezim agar Iran kembali berteman dengan Amerika Serikat.
Meskipun dihajar habis-habisan sistem Iran justru semakin kuat secara ideologi tanpa menunjukkan kerusuhan pemerintah macet atau rudal berhenti.
Iran telah mempersiapkan diri selama dua puluh tahun sehingga kematian pemimpin tidak mengganggu stabilitas internal serta kemampuan perlawanan.
Serangan balasan Iran terus berlangsung termasuk menghantam Pangkalan Udara Nevatim di Israel dengan hujan rudal balistik.
Agung menilai kombinasi asimetris drone serta rudal Iran membuat pertahanan udara musuh kewalahan dengan tingkat keberhasilan mencapai lima puluh persen bahkan seratus persen di beberapa daerah seperti Haifa.
Diplomasi Amerika Serikat mengalami penurunan drastis karena Inggris Prancis Spanyol serta negara Teluk menolak membantu sementara peralatan anti-balistik Amerika Serikat di Timur Tengah hancur pada hari pertama.
Iran menguasai Selat Hormuz sehingga ancaman blokade memberikan kekuatan ekonomi besar atas pasokan minyak dunia.
Jika konflik berlanjut Iran justru berpotensi menjadi kekuatan yang lebih besar di mata dunia dengan pengaruh yang meningkat secara signifikan.
Agung menyimpulkan bahwa grand strategi Amerika Serikat serta Israel gagal total meskipun output taktis tampak bagus sehingga strategic outcome dinilai nol.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

