Repelita Jakarta - Ketegangan yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah memicu diskusi mendalam mengenai konflik Israel-Iran dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara.
Ustaz Felix Siauw menyampaikan pandangannya tentang eskalasi tersebut termasuk dugaan motif geopolitik Amerika Serikat serta spekulasi terkait tanda-tanda akhir zaman yang sering dikaitkan dengan peristiwa tersebut.
Diskusi yang dipandu Helmy Yahya meliputi berbagai aspek mulai dari dinamika perang modern hingga interpretasi teologis yang berkembang dalam konteks konflik saat ini.
Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah informasi mengenai pengerahan sekitar tujuh puluh ribu pasukan Israel dalam gelombang eskalasi terbaru melawan Iran.
Angka tersebut kemudian dihubungkan dengan sebuah hadis yang menyebut kemunculan Dajjal bersama tujuh puluh ribu Yahudi dari Bani Isfahan.
Hari kiamat itu akan ada Dajjal yang membawa salah satunya 70.000 Yahudi dari Bani Isfahan ujar Felix sambil merujuk riwayat yang menunjuk Isfahan sebagai lokasi penting dalam narasi tersebut.
Ia menambahkan bahwa berita terkini tentang Israel yang akan mengerahkan tujuh puluh ribu personel untuk menguasai Iran membuat banyak orang bertanya-tanya apakah itu sekadar kebetulan atau memiliki makna lebih dalam.
Meskipun demikian Felix menekankan bahwa konflik antara Israel dan Iran tidak dapat langsung dikategorikan sebagai perang agama semata.
Menurutnya faktor geopolitik serta ambisi ekspansi kekuasaan jauh lebih mendominasi dibandingkan motif keagamaan murni.
Israel memiliki cita-cita menjadi penguasa tunggal di kawasan tersebut dan Iran merupakan kekuatan besar terakhir yang belum terselesaikan dalam narasi Greater Israel katanya.
Konsep Greater Israel sering dikaitkan dengan visi wilayah yang membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat yang menjadi bahan perdebatan politik di Timur Tengah.
Felix juga menganalisis posisi Iran dalam peta kekuatan global yang melihatnya sebagai bagian dari pertarungan antara blok Barat dan Timur.
Amerika Serikat berada di satu kubu sementara Cina serta Rusia di kubu lain dan Iran cenderung lebih dekat dengan blok Timur jelasnya.
Ia menyebut proxy war sebagai salah satu kunci utama untuk memahami pola dinamika konflik yang sedang berlangsung.
Felix mengkritik standar ganda Amerika Serikat dalam isu perdamaian dan perang dengan merujuk invasi Irak atas dasar senjata pemusnah massal yang ternyata tidak terbukti.
Ia juga menyinggung penggunaan bom nuklir terhadap Jepang sebagai catatan sejarah yang menunjukkan hipokrisi dalam kebijakan luar negeri tersebut.
Helmy Yahya sempat membahas situasi politik internal Amerika Serikat termasuk pergantian kekuasaan antara Joe Biden dan kembalinya Donald Trump.
Felix berpendapat bahwa konflik di luar negeri dapat menjadi sarana pengalihan perhatian dari masalah domestik meskipun hal itu masih bersifat analisis spekulatif.
Kalau ada potensi konflik sipil di dalam negeri perang di luar bisa menjadi distraksi tapi tentu kita tidak bisa memastikan ujarnya.
Pembahasan kemudian beralih ke wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di mana Felix menyebut adanya informasi bahwa Khamenei telah menyiapkan daftar nama penerus secara rahasia sebelum meninggal.
Kalau benar begitu berarti Iran sudah mengantisipasi biasanya dalam kondisi perang suksesi disiapkan untuk menjaga stabilitas katanya.
Ia memperkirakan bahwa kepergian Khamenei tidak serta merta melemahkan Iran melainkan justru dapat memicu konsolidasi kekuatan baru di dalam negeri.
Namun Felix juga memperingatkan risiko besar jika konflik terus meluas tanpa adanya penyeimbang kekuatan di kawasan.
Kalau Iran benar-benar dilemahkan maka yang muncul bisa saja satu kekuatan dominan di Timur Tengah tanpa penyeimbang itu yang menurut saya mengkhawatirkan ujarnya.
Di akhir perbincangan Felix kembali menyinggung aspek eskatologis dengan mengingatkan keyakinan umat Islam tentang kemunculan Dajjal dan Imam Mahdi sebagai tanda akhir zaman.
Ia menekankan pentingnya tetap waspada tanpa gegabah mengklaim serta menjaga akal sehat dalam menyikapi fakta yang berkembang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

