Repelita Jakarta - Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran melawan gabungan Amerika Serikat serta Israel terus menunjukkan tanda-tanda eskalasi tanpa tanda mereda.
Sekutu tradisional Washington di kawasan mulai menunjukkan sikap hati-hati bahkan menjauh dari dukungan penuh terhadap operasi militer AS-Israel.
Beberapa negara Arab yang selama ini menjadi mitra strategis kini terlihat enggan terlibat lebih dalam sehingga AS dan Israel menghadapi tekanan sendirian.
Serangan rudal balistik Iran yang masif berhasil menembus pertahanan udara Israel dan AS sehingga menyebabkan kerusakan signifikan di berbagai target strategis.
Korps Garda Revolusi Islam melaporkan rudal-rudal canggih mereka menciptakan kondisi sulit bagi pasukan koalisi di darat maupun udara.
China melalui pernyataan Presiden Xi Jinping mendesak Tentara Pembebasan Rakyat meningkatkan kesiapan tempur menghadapi kemungkinan konflik besar dengan Barat.
Xi Jinping menekankan perlunya militer China siaga penuh di tengah dinamika global yang berubah cepat pada Jumat enam Maret dua ribu dua puluh enam.
Rusia melalui Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menegaskan komitmen memastikan invasi AS serta Israel terhadap Iran segera dihentikan.
Lavrov menyatakan Rusia bersama negara pencinta damai akan berupaya maksimal agar operasi militer tersebut menjadi mustahil dilakukan lagi.
Presiden Vladimir Putin mengancam memangkas pasokan gas ke negara Eropa yang mendukung Amerika Serikat dalam serangan terhadap Iran.
Ancaman tersebut muncul sebagai respons terhadap upaya Eropa mengurangi ketergantungan energi dari Rusia sejak konflik sebelumnya.
Korea Utara menyatakan dukungan terbuka penuh kepada Iran dan menyatakan kesiapan bergabung dalam perang melawan AS serta Israel.
Kim Jong Un melontarkan pernyataan keras bahwa entitas Zionis akan lenyap ketika waktunya tiba seperti dikutip pada Kamis lima Maret dua ribu dua puluh enam.
Pyongyang memperkuat sinyal tersebut dengan peluncuran tiga rudal balistik antarbenua Hwasong 20 nuklir sebagai demonstrasi kekuatan militer.
Situasi ini menunjukkan kemungkinan terbentuknya blok baru yang mendukung Iran sehingga mengubah peta kekuatan geopolitik dunia secara signifikan.
AS dan Israel menghadapi tekanan dari berbagai arah sementara sekutu lama mulai menjaga jarak di tengah hujan rudal yang tak henti-hentinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

