Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Culas dan Licik: AS Tiru Drone Shahed Iran untuk Adu Domba Timur Tengah

 

Repelita Teheran - Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang jauh lebih kotor dengan munculnya tuduhan baru dari Iran terhadap Amerika Serikat.

Amerika Serikat kini dituding menggunakan cara-cara tidak ksatria dengan menjiplak teknologi drone kebanggaan Iran, Shahed-136, hanya untuk mengganti mereknya menjadi Lucas.

Culas dan licik, AS meniru drone Shahed Iran untuk adu domba negara-negara di Timur Tengah.

Ironisnya, drone tiruan ini diduga kuat digunakan dalam operasi bendera palsu atau false flag untuk menyerang infrastruktur sipil di negara-negara Arab.

Tujuan dari operasi ini adalah untuk mengambinghitamkan Teheran di mata negara-negara tetangganya.

Langkah ini dipandang sebagai bentuk keputusasaan Washington dan sekutunya yang mulai kehabisan akal.

Setelah gagal membendung pengaruh strategis Iran yang secara intelektual terbukti unggul jauh di atas mereka, Barat kini beralih ke strategi adu domba yang licik.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa informasi intelijen menunjukkan adanya titik-titik tertentu yang digunakan AS dan Israel.

Titik-titik tersebut digunakan untuk meluncurkan serangan ke negara-negara Arab di kawasan Teluk.

Tujuannya satu, yaitu merusak kemesraan diplomatik yang sedang dibangun Iran dengan tetangga-tetangganya.

"AS telah mengembangkan drone yang mirip dengan drone Shahed kami, yang mereka sebut 'Lucas'. Drone ini digunakan untuk menyerang target di negara-negara Arab," tegas Araghchi, mengutip laporan Doha News pada Selasa, 17 Maret 2026.

Pernyataan senada juga dikeluarkan oleh Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya di bawah Korps Garda Revolusi Islam.

Ebrahim Zolfaghari dari IRGC menyebut ada konspirasi jahat untuk menyalahkan Iran atas serangan di Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Bahrain.

Pihak Teheran menegaskan bahwa setiap operasi militer yang mereka lakukan selalu terukur, disiplin, dan sesuai prinsip hukum internasional.

Sasaran Iran selama ini sangat spesifik, yakni instalasi militer milik AS dan rezim Zionis Israel.

Sebaliknya, drone Lucas milik AS justru menyasar fasilitas penting, area pemukiman, hingga kantor diplomatik.

Hal ini dilakukan untuk memicu kemarahan publik Arab terhadap Iran di tengah konflik yang memanas.

"Tujuan musuh adalah menimbulkan pesimisme dan menciptakan perpecahan antara Iran dengan negara-negara tetangganya," tambah Zolfaghari.

Dampak dari permainan intelijen tingkat tinggi ini mulai memakan korban di lapangan.

Terbaru, Bandara Internasional Dubai di Uni Emirat Arab dilaporkan terkena serangan drone pada Senin, 16 Maret 2026 pagi.

Meski asal-usul drone tersebut belum teridentifikasi secara resmi, insiden ini semakin memperkuat kekhawatiran.

Kekhawatiran akan penggunaan drone tiruan untuk memperkeruh suasana di kawasan semakin meningkat.

Fenomena copycat teknologi ini menunjukkan bahwa meskipun AS memiliki anggaran militer tak terbatas, mereka seringkali tertinggal dalam inovasi orisinal.

Amerika juga dinilai tertinggal dalam kecerdasan strategi jika dibandingkan dengan Teheran.

Kini dunia menunggu apakah negara-negara Arab akan termakan umpan balik dari strategi Lucas ini.

Atau justru menyadari adanya permainan catur yang jauh lebih besar di balik serangan-serangan misterius tersebut.

Iran terus memperingatkan negara-negara tetangganya untuk waspada terhadap operasi false flag yang dilancarkan Amerika dan Israel.

Strategi culas dan licik AS ini dinilai sebagai bentuk keputusasaan menghadapi kecerdasan strategi Iran di Timur Tengah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved