Oleh Rina Syafri
Prabowo sibuk memamerkan MBG di forum-forum dunia. Ia menyebut proyek ini sebagai kebanggaan nasional dan mengklaim akan menciptakan jutaan lapangan kerja. Di luar negeri, MBG digambarkan sebagai simbol kemajuan Indonesia. Namun, pertanyaan besar muncul: apakah kebanggaan ini benar-benar berpihak pada rakyat, atau sekadar citra politik di panggung internasional?
Bisa dibanggakan atau tidak, Kepala MBG Dadan Hindayana “lebih maju” selangkah. Maju dalam mengarogansikan MBG itu di depan rakyat miskin.
Alih-alih memberi solusi, Kepala MBG justru melontarkan ucapan yang merendahkan penerima MBG yang kerap basi ketika dikonsumsi dan menyebabkan keracunan. Dadan menyebut bahwa “kemiskinan adalah penghalang kesuksesan MBG.” Pernyataan ini bukan hanya arogan, tetapi juga mencederai martabat rakyat kecil. Rakyat miskin yang seharusnya dilindungi justru dijadikan kambing hitam demi keberhasilan program.
Selain bisa dilihat mengarogansikan MBG, program ini juga berubah menjadi arena lomba menjilat Prabowo. Salah satu kontestan lomba jilat itu adalah Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy.
Seperti apa jilat Rachmat? Dia meremehkan penciptaan lapangan kerja dibandingkan MBG. Kata Rachmat, penciptaan lapangan kerja itu penting tapi MBG jauh lebih mendesak.
Ucapan ini memperlihatkan betapa proyek raksasa ini ditempatkan di atas kebutuhan primer rakyat. Bagaimana mungkin pekerjaan—sumber penghidupan jutaan orang—dikesampingkan demi sebuah proyek yang belum jelas manfaat langsungnya?
Oleh karena itu, sangat tidak waras ketika secara serentak para pejabat pemerintah menjadikan MBG sebagai berhala kebijakan.
Ketiga narasi ini— yaitu Prabowo sibuk membanggakan MBG di luar negeri, Kepala MBG menghina rakyat miskin, dan Kepala Bappenas menomorsatukan MBG di atas lapangan kerja —menciptakan gambaran yang aneh bin ajaib. MBG seolah menjadi segalanya. Sedangkan rakyat hanya menjadi penonton yang dipinggirkan.
Jika MBG benar ingin disebut sebagai proyek kebanggaan bangsa, maka ukurannya bukan sekadar tepuk tangan di forum internasional. Ukurannya adalah sejauh mana ia memberi pekerjaan nyata, menjaga martabat rakyat miskin, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat. Tanpa itu semua, MBG hanya akan dikenang sebagai simbol arogansi, bukan simbol kemajuan.(*)

