Jangan Ingin Program MBG Jalan Terus, Pemerintah Seenaknya Menghina Kami Orang Miskin
Oleh: Rina Syafri
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digembar-gemborkan pemerintah seolah menjadi solusi sakti atas kemiskinan dan kelaparan. Tapi bagi kami, rakyat miskin yang hidup dari hari ke hari, program ini justru terasa seperti penghinaan yang dibungkus dengan jargon mulia.
Kami tidak butuh pencitraan. Kami butuh keadilan. Ketika anak-anak kami putus sekolah karena tak mampu beli seragam, ketika dapur kami tak berasap karena harga sembako melonjak, pemerintah malah sibuk memamerkan program makan gratis yang tak menyentuh akar persoalan. Apakah kami hanya dianggap perut lapar yang perlu disuapi sesekali demi angka survei?
Lebih menyakitkan lagi, pernyataan dari pejabat BGN yang menyebut bahwa anak putus sekolah karena orang tua tak mampu memberi uang jajan harian. Pernyataan ini bukan hanya dangkal, tapi juga merendahkan martabat kami. Seolah-olah kemiskinan adalah akibat kelalaian kami, bukan hasil dari sistem yang gagal melindungi dan memberdayakan.
Kami ingin anak-anak kami sekolah karena ada jaminan pendidikan yang layak, bukan sekadar makan gratis. Kami ingin pekerjaan yang bermartabat, bukan bantuan yang datang sesekali lalu hilang saat kampanye usai. Kami ingin didengar, bukan dijadikan objek belas kasihan.
Jika pemerintah benar-benar peduli, hentikan program yang hanya mengobati gejala. Mulailah dari reformasi pendidikan, jaminan kesehatan, dan lapangan kerja yang nyata. Jangan teruskan MBG jika hanya menjadi alat propaganda. Karena bagi kami, rakyat miskin, program seperti itu bukan solusi—itu penghinaan.(*)

