Repelita Yogyakarta - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto mengungkapkan bahwa hampir seluruh pengurus BEM UGM mengalami teror serta ancaman setelah menyampaikan kritik terhadap program pemerintah terutama Makan Bergizi Gratis.
Ia menegaskan bahwa sekitar tiga puluh pengurus menerima berbagai bentuk intimidasi namun hal tersebut tidak membuat mereka mundur atau gentar dalam menyuarakan pendapat.
Tiyo menyatakan bahwa semakin besar tekanan yang diterima justru semakin memperkuat tekad mereka untuk terus melawan demi kepentingan bangsa.
Meskipun menghadapi situasi mencekam pengurus BEM UGM tetap mendapat dukungan kuat dari Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik sivitas akademika UGM Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban serta Lembaga Bantuan Hukum.
Menurut Tiyo ancaman yang mereka terima bukan sekadar masalah pribadi melainkan sinyal serius mengenai kondisi demokrasi di Indonesia saat ini.
Ia menilai bahwa kritik yang disampaikan berangkat dari rasa kepedulian terhadap alokasi anggaran negara serta prioritas program pemerintah yang dianggap keliru.
Tiyo menekankan bahwa teror ini menjadi alarm bagi demokrasi karena menunjukkan adanya kecacatan ketika suara kritis dibalas dengan intimidasi.
Lebih lanjut ia menyampaikan keprihatinan mendalam bahwa ancaman tidak hanya berupa teror melainkan juga mencakup risiko penculikan hingga pembunuhan yang dialami tidak hanya dirinya saja.
Tiyo mengaku belum mengetahui secara pasti pelaku di balik teror tersebut namun menduga adanya kaitan dengan pihak yang merasa tersinggung oleh kritik mereka.
Ia menyerahkan jawaban atas dugaan tersebut kepada pemerintah sambil menegaskan bahwa kritik yang disampaikan lahir dari kepedulian terhadap arah kebijakan negara. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

