
Repelita - Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan Dian Wirengjurit memberikan analisis mendalam terkait pengerahan kapal induk Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah di tengah ketegangan dengan Iran. Menurutnya, kapal induk yang dikerahkan Washington bukanlah senjata pamungkas yang kebal melainkan justru dapat menjadi target strategis yang rentan terhadap kemampuan militer modern Teheran.
Dian secara tegas meragukan keterlibatan langsung Israel dalam konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran jika benar-benar terjadi. Ia menilai Israel tidak memiliki kapasitas memadai untuk menghadapi Iran secara mandiri tanpa dukungan penuh dari sekutunya di Washington. Pernyataan ini disampaikannya dalam wawancara dengan kanal YouTube tvOne pada Sabtu tanggal 31 Januari 2026.
Mantan diplomat senior tersebut menegaskan bahwa selama ini kekuatan Israel kerap dibesar-besarkan karena berada di bawah payung perlindungan militer dan politik Amerika Serikat. Tanpa sokongan dari Washington, Israel dinilai tidak akan berani terlibat langsung dalam konfrontasi bersenjata dengan Iran mengingat perbandingan kekuatan yang tidak seimbang.
Dian mengingatkan bahwa dalam konflik modern, kapal induk yang membawa sekitar lima ribu personel militer justru menjadi aset yang rentan karena ukurannya yang besar dan mobilitas yang terbatas. Ribuan personel di dalamnya memerlukan pendaratan yang aman sementara kapal induk itu sendiri berada dalam posisi rawan secara militer di wilayah operasi.
Kemajuan teknologi militer Iran dalam beberapa tahun terakhir menjadi faktor kunci yang mengubah persamaan kekuatan di kawasan. Iran telah berhasil mengembangkan drone canggih yang bahkan mampu terbang melintasi kapal induk Amerika Serikat dalam sebuah insiden yang sempat viral di media internasional.
Lebih dari itu, Iran kini memiliki kemampuan untuk memproduksi drone dengan teknologi lebih maju yang diadaptasi dari desain Amerika Serikat. Drone tersebut bahkan telah digunakan oleh Rusia dalam operasi militer dengan sebutan Kamikaze, menunjukkan tingkat kecanggihan yang signifikan.
Sanksi internasional yang berat justru mendorong Iran untuk mengembangkan teknologi militernya secara mandiri dan inovatif. Negara tersebut kini dilengkapi dengan sistem pertahanan dan pengintaian modern termasuk satelit militer yang mampu memantau pergerakan aset Amerika Serikat di kawasan.
Satelit militer Iran memiliki kemampuan untuk mengamati segala aktivitas di pangkalan militer Amerika Serikat termasuk pergerakan kapal induk yang berlayar di perairan regional. Kemampuan pengintaian ini memberikan keunggulan tersendiri bagi Teheran dalam menghadapi potensi konflik.
Meskipun secara perhitungan di atas kertas Amerika Serikat masih unggul dalam hal kekuatan militer konvensional, kondisi aktual di lapangan dapat menghasilkan dinamika yang sangat berbeda. Menghancurkan sebuah kapal induk mungkin terlihat sulit secara teoritis tetapi bagi Iran hal tersebut bukanlah tantangan yang mustahil.
Kapal induk sangat bergantung pada landasan pacu untuk meluncurkan pesawat tempurnya. Satu serangan rudal yang tepat sasaran ke area landasan pacu dapat melumpuhkan seluruh operasi udara dari kapal induk tersebut. Iran memiliki persediaan rudal konvensional yang memadai untuk melancarkan serangan bertubi-tubi.
Risiko menjadi semakin besar jika kapal induk Amerika Serikat memasuki Selat Hormuz yang merupakan wilayah sempit dan berada dalam jangkauan senjata konvensional Iran. Kondisi geografis ini memberikan keuntungan strategis bagi Teheran dalam menghadapi armada laut besar.
Pernyataan keras juga disampaikan oleh Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran Jenderal Abolfazl Shekarchi yang mengancam akan membalas setiap agresi terhadap pemimpin negaranya. Iran juga telah mengaktifkan sekitar seribu pesawat tak berawak baru untuk memperkuat pertahanan dan kemampuan serangannya.
Langkah penguatan militer ini dilakukan di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait program nuklir Iran. Meskipun situasi tampak memanas, Dian menilai bahwa semua ancaman tersebut belum tentu berujung pada perang terbuka mengingat pola serupa telah terjadi berulang kali sejak tahun 1979.
Iran telah hidup di bawah bayang-bayang ancaman militer selama beberapa dekade namun tetap mampu bertahan dan berkembang menjadi kekuatan regional yang diperhitungkan. Dalam konteks ini, kapal induk Amerika Serikat dan potensi keterlibatan Israel bukanlah faktor penentu mutlak pecahnya konflik berskala besar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

