
Repelita Jakarta - Khalil al-Hayya selaku anggota Biro Politik Hamas sekaligus pemimpin kelompok tersebut di Jalur Gaza menyatakan pada hari Sabtu bahwa pelanggaran berulang yang dilakukan Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata akan menimbulkan dampak sangat serius.
Menurut laporan Anadolu Hamas mengungkapkan bahwa al-Hayya melakukan pembicaraan melalui telepon dengan beberapa mediator serta pihak internasional yang identitasnya tidak diungkap setelah pasukan Israel menewaskan 37 warga Palestina dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Al-Hayya mengecam keras tindakan Israel yang nyaris setiap hari melakukan apa yang disebutnya sebagai kejahatan dan pembantaian di wilayah Gaza dengan menggunakan alasan-alasan yang menurutnya penuh kepalsuan dan kebohongan.
Ia menegaskan bahwa pelanggaran nyata yang dilakukan pihak pendudukan terhadap perjanjian gencatan senjata memiliki konsekuensi besar dan menekankan bahwa komitmen perlawanan Palestina untuk menjaga gencatan senjata harus diimbangi dengan paksaan agar Israel mematuhi kewajibannya.
Hamas juga menyoroti kegagalan Israel dalam menyelesaikan nasib warga Palestina yang masih terjebak di dalam terowongan di kawasan Rafah bagian selatan Gaza.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober banyak warga sipil Palestina terperangkap di Rafah sementara pihak Israel menolak memberikan izin evakuasi meskipun telah ada berbagai upaya mediasi dengan dalih bahwa beberapa di antaranya merupakan anggota Brigade Izzeddin al-Qassam.
Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan pada pertengahan Januari bahwa tahap kedua dari rencana gencatan senjata 20 poin telah dimulai sejumlah persoalan krusial termasuk nasib warga yang terjebak di terowongan masih belum menemukan solusi.
Secara terpisah berbagai kelompok perlawanan Palestina menyatakan bahwa lonjakan serangan Israel di Gaza merupakan upaya nyata untuk menggagalkan upaya penguatan dan konsolidasi gencatan senjata.
Komite Tindak Lanjut Pasukan Nasional dan Islam dalam pernyataannya menegaskan bahwa pasukan Israel terus melakukan pelanggaran dengan intensitas serangan yang semakin meningkat setelah pembentukan Komite Nasional Administrasi Jalur Gaza.
Menurut komite tersebut serangan mencapai puncaknya pada Jumat dini hari dengan menyasar berbagai gedung tempat perlindungan serta kantor polisi sehingga menewaskan sejumlah warga Palestina terutama perempuan dan anak-anak.
Komite mencatat bahwa sejak Komite Nasional diumumkan pada 17 Januari serangan Israel telah menewaskan 71 orang dan melukai 140 orang dengan mayoritas mengalami luka berat.
Gaza juga mengalami 96 serangan udara dan tembakan artileri selama periode tersebut termasuk 61 serangan yang langsung menyasar warga sipil serta menyebabkan 17 rumah hancur total atau mengalami kerusakan parah akibat bombardir.
Komite tersebut mendesak Amerika Serikat para mediator serta komunitas internasional agar segera memberikan tekanan kepada Israel supaya menghentikan serangan dan mengakhiri seluruh bentuk pelanggaran terhadap gencatan senjata.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

