Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Hilal yang Pilih Kasih: Muharram Serentak, Ramadhan Kok Beda Terus?

 

Oleh: Rina Syafri

Indonesia adalah negeri dengan jutaan umat Islam, namun setiap tahun kita menghadapi kebingungan yang sama: kapan mulai puasa, kapan lebaran. Ironisnya, untuk 1 Muharam kita bisa seragam dari Sabang sampai Merauke. Tetapi giliran 1 Ramadhan, perbedaan selalu muncul.

Mengapa bisa begitu? Jawabannya ada pada metode penetapan. Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki wujudul hilal: begitu bulan sudah di atas ufuk setelah ijtimak, esoknya langsung ditetapkan awal bulan. Pemerintah melalui Kementerian Agama memakai kombinasi hisab dan rukyat dengan kriteria MABIMS: hilal harus minimal 3° tinggi dan elongasi 6,4°. Jika belum memenuhi, bulan baru ditunda sehari. Maka wajar jika hasilnya kadang sama, kadang berbeda.

Namun, pertanyaan besar tetap ada: kalau 1 Muharam bisa seragam, kenapa tidak dijadikan titik temu berlanjut sampai ke 1 Ramadhan? Bukankah lebih logis jika sistem yang sudah bisa menyatukan umat di awal tahun hijriyah, juga dipakai untuk menyatukan umat di bulan paling sakral, Ramadhan?

Setiap tahun, jutaan keluarga di Indonesia menghadapi dilema yang sama. Ada yang puasa duluan, ada yang menunggu sehari. Ada yang lebaran lebih cepat, ada yang masih bertakbir di malam berikutnya. Perbedaan ini bukan hanya soal kalender, tapi soal kebersamaan.

Lucunya, kita bisa kompak untuk hal-hal lain yang lebih rumit, tapi untuk Ramadhan justru terpecah. Padahal, Ramadhan adalah momentum persatuan. Jika 1 Muharam bisa seragam, mengapa tidak Ramadhan?

Sudah saatnya ada keberlanjutan: dari 1 Muharam ke 1 Ramadhan, satu garis lurus, satu ketetapan bersama. Agar umat tidak lagi terpecah dalam hal yang mestinya jadi sumber persatuan.(*)



Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved