
Repelita Jakarta - Dukungan dari berbagai partai politik mulai mengalir untuk meminta Presiden Prabowo Subianto kembali mencalonkan diri pada Pilpres 2029 meskipun pemilihan tersebut masih berjarak tiga tahun lagi.
Gelombang dukungan tersebut dinilai belum secara penuh menyertakan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai calon pendamping dalam komposisi pasangan.
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno menilai langkah partai-partai yang menyatakan dukungan sejak dini merupakan upaya menunjukkan loyalitas mutlak kepada Prabowo sebagai presiden petahana.
Menurut Adi dukungan awal kepada Prabowo untuk dua periode memiliki nilai politik yang jauh lebih tinggi dibandingkan dukungan yang baru muncul menjelang akhir masa jabatan.
Adi menjelaskan bahwa status petahana memberikan keunggulan sangat besar bagi Prabowo sehingga sulit bagi calon lain untuk menjadi penantang yang sepadan pada 2029.
Prabowo dipandang sebagai figur yang sangat kuat dan menjadi pusat tarikan dukungan politik utama di antara partai-partai koalisi.
Adi menekankan bahwa dukungan kuat terhadap Prabowo tidak serta merta berarti persetujuan otomatis bagi Gibran untuk kembali mendampingi sebagai calon wakil presiden.
Hampir seluruh partai memiliki kepentingan sendiri untuk mengusung kader atau tokoh internal mereka sebagai calon wakil presiden.
Sebagai contoh PAN telah mengemukakan nama Zulkifli Hasan sementara PKB dan Demokrat juga diyakini memiliki kandidat pilihan masing-masing.
Golkar disebut akan mengikuti keputusan Prabowo sepenuhnya terkait siapa yang akan menjadi pendampingnya nantinya.
Pengamat politik Engelbert Johannes Rohi atau Jojo Rohi menyatakan bahwa tidak disebutkannya nama Gibran dalam berbagai pernyataan dukungan partai merupakan sinyal politik yang cukup jelas.
Menurut Jojo hal itu menunjukkan bahwa Gibran belum atau bahkan tidak masuk dalam pertimbangan utama sebagai pasangan Prabowo pada 2029.
Jojo juga menilai dukungan yang muncul terlalu dini dapat dikategorikan sebagai langkah yang masih prematur karena dinamika politik masih sangat mungkin berubah dalam tiga tahun ke depan.
Ia menyoroti bahwa waktu yang masih panjang serta kemungkinan munculnya faktor pengubah permainan dapat menggeser peta politik menjelang Pilpres 2029.
Jojo menambahkan bahwa Gibran menghadapi kendala mendasar yaitu tidak memiliki kendaraan politik sendiri berupa partai yang kuat.
Posisi Gibran dinilai paling mungkin hanya memanfaatkan PSI sebagai kendaraan politik meskipun langkah tersebut berisiko memicu penolakan dari partai-partai lain dalam koalisi.
PSI yang cenderung agresif justru berpotensi menjadi musuh bersama bagi sejumlah partai baik di luar maupun di dalam koalisi pendukung Prabowo.
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menyatakan kepuasan partainya terhadap kinerja pemerintahan Prabowo sehingga siap mendukung dua periode kepemimpinan.
Muhaimin menegaskan bahwa dukungan PKB bersifat kompak untuk dua periode namun belum membahas sosok calon wakil presiden pendamping Prabowo.
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menilai dukungan dua periode sangat diperlukan agar seluruh program pemerintahan Prabowo dapat terlaksana secara maksimal.
Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno menegaskan bahwa partainya telah konsisten mendukung Prabowo dalam tiga kali Pilpres dan kini kembali memberikan dukungan penuh untuk 2029.
Eddy menyatakan bahwa penentuan calon wakil presiden masih memerlukan berbagai pertimbangan termasuk kemampuan kerja sama dan dukungan elektoral yang tinggi.
Secara pribadi Eddy mengaku lebih memilih Zulkifli Hasan sebagai pendamping Prabowo pada 2029 meskipun itu belum menjadi sikap resmi partai.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

