
Repelita Jakarta - Dokter anak Piprim Basarah Yanuarso mengungkapkan bahwa beberapa bulan lalu dirinya sempat mendapat tawaran untuk ikut berinvestasi dalam proyek Program Makan Bergizi Gratis.
Ia diminta terlibat dalam pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang menjadi bagian dari skema program tersebut.
Namun Piprim langsung menolak tawaran itu dengan tegas karena tidak sesuai dengan prinsipnya.
Beberapa bulan lalu ditawari ikutan investasi di proyek MBG kalau tidak salah diajak bikin SPPG atau apa gitu lalu saya tolak ungkap Piprim.
Alih-alih bergabung dengan skema investasi baru Piprim justru mengusulkan solusi yang lebih sederhana dan langsung bermanfaat bagi siswa.
Ia menyarankan agar kantin sekolah yang sudah ada diaktifkan kembali dengan dana program diberikan langsung kepada pengelola kantin.
Saya bilang aktifkan saja kantin sekolah itu duitnya langsung kasih ke mereka bakal lebih bermanfaat dan lebih besar dapat jatahnya untuk anak-anak sekolah jelasnya.
Menurut Piprim pendekatan ini dapat mempercepat distribusi manfaat mengurangi rantai birokrasi serta memastikan porsi anggaran lebih besar sampai ke tangan siswa.
Selain itu pemberdayaan kantin sekolah juga berpotensi menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar lingkungan sekolah.
Seiring perkembangan yang terjadi Piprim mengaku bersyukur telah mengambil keputusan menolak tawaran tersebut.
Dan ternyata keputusan saya tepat alhamdulillah tuturnya.
Pernyataan Piprim langsung menarik perhatian publik dengan banyak pihak mulai membandingkan efektivitas proyek baru dengan optimalisasi fasilitas yang sudah tersedia di sekolah-sekolah.
Wacana seputar proyek MBG dan pembangunan SPPG kini semakin meluas menjadi bahan diskusi yang hangat di masyarakat.
Sejumlah kalangan menilai perlu evaluasi mendalam agar kebijakan benar-benar berpihak pada kepentingan anak-anak tanpa mengorbankan aspek lain yang lebih esensial.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

