
Repelita Sana'a - Koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi melakukan serangkaian serangan udara intensif di provinsi al-Dhale, Yaman selatan, pada Rabu 7 Januari 2026.
Lebih dari lima belas kali bombardir dilancarkan menggunakan jet tempur yang menargetkan kawasan pemukiman.
Akibat serangan tersebut, sedikitnya empat warga sipil meninggal dunia sementara enam orang lainnya mengalami luka-luka.
Seorang pejabat setempat yang enggan disebut namanya menyampaikan kepada media internasional bahwa sasaran utama adalah rumah-rumah milik tokoh-tokoh pendukung Aidaros Alzubidi, pemimpin Dewan Transisi Selatan.
Al-Dhale dikenal sebagai daerah asal Alzubidi yang memimpin gerakan separatis di wilayah selatan Yaman.
"Lebih dari 15 serangan udara menghantam target di al-Dhale, terutama rumah para pemimpin yang setia kepada Alzubidi," ungkap pejabat tersebut.
Dua fasilitas medis di al-Dhale, yaitu Rumah Sakit Al-Nasr dan Al-Tadamon, membenarkan adanya korban jiwa dari warga biasa.
"Jumlah korban awal dari serangan di provinsi al-Dhale adalah empat kematian warga sipil dan enam orang luka-luka," jelas sumber medis.
Eskalasi ini muncul setelah Alzubidi tidak menghadiri undangan pembicaraan damai yang digelar di Riyadh.
Koalisi Saudi mengklaim operasi tersebut bersifat terbatas dan menuding Alzubidi menghilang ke tempat yang tidak diketahui.
Dewan Transisi Selatan langsung membantah tuduhan itu serta menyerukan penghentian segera serangan udara.
"Sementara Dewan Transisi Selatan mengutuk serangan udara yang tidak beralasan ini, kami menuntut agar otoritas Saudi segera menghentikan pemboman," bunyi pernyataan resmi STC.
Mereka juga menegaskan bahwa Alzubidi tetap menjalankan tugasnya dari Aden, ibu kota sementara wilayah selatan.
Juru bicara STC Anwar Al-Tamimi menyatakan bahwa komunikasi dengan delegasi yang berangkat ke Riyadh terputus sejak malam sebelumnya.
"Kami telah kehilangan kontak dengan delegasi yang bepergian ke Riyadh tadi malam," kata Al-Tamimi.
Ia meminta jaminan keselamatan dari pihak Saudi terhadap anggota delegasi tersebut.
Peristiwa ini semakin memperburuk situasi keamanan di Yaman yang sudah lama dilanda konflik berkepanjangan.
Editor: 91224 R-ID Elok

