Repelita Jakarta - Pakar telematika Roy Suryo mengalihkan perhatian publik dari polemik ijazah mantan Presiden Joko Widodo menuju riwayat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka setelah dirinya resmi menjadi tersangka.
Ia menilai isu ini berdampak serius terhadap legitimasi jabatan publik dan integritas proses demokrasi di Indonesia.
Pernyataan Roy Suryo disampaikan dalam wawancara yang diunggah pada kanal YouTube Bambang Widjojanto dengan judul “Ijazah Jokowi Finish? Roy Suryo CS Fokus Bongkar Pendidikan SMK?” pada 3 Januari 2026.
Kita masih berkutat dengan isu ijazah, tapi bukan ijazah Jokowi, melainkan ijazah anaknya Pak Jokowi.
Roy menyoroti bahwa pendidikan Gibran di Orchard Park Secondary School serta program di University of Technology Sydney tidak setara dengan pendidikan menengah atas formal.
UTS itu hanya pathway atau kursus, bukan pendidikan setara SMA.
Apabila dokumen pendidikan seorang pejabat terbukti bermasalah, maka seluruh keputusan dan kebijakan yang dikeluarkan berpotensi memiliki cacat hukum.
Kalau kepala daerahnya tidak legal, konsekuensi hukumnya ikut batal.
Berdasarkan penelusuran langsung hingga ke Australia, Roy mengaku memperoleh sertifikat resmi dari UTS Insearch yang membuktikan program tersebut hanya berupa kursus bahasa Inggris, bukan gelar diploma atau setara SMA.
Lalu lembaga pemerintah yang mana yang mesti dipercaya? Di situs Setneg, pendidikan di UTS seolah-olah disebut S2, padahal aslinya itu hanya pathway atau matrikulasi. Saya sudah bertemu staf pengajar di sana, dan mereka tidak mengenal sosok Gibran di angkatan tersebut.
Kebohongan hanya bisa ditutupi dengan kebohongan lain. Ini bisa terus berlanjut.
Polemik ini semakin memanas setelah status hukum Roy Suryo berubah, namun ia tetap vokal menyuarakan temuan terkait riwayat pendidikan Gibran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

