Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ridho Rahmadi Beberkan Persiapan Ilmiah Rinci Jadi Saksi Ahli Perkara Ijazah Jokowi

 

Repelita Jakarta - Ilmuwan komputer sekaligus akademisi Indonesia, Ridho Rahmadi, membagikan pengalamannya saat diminta menjadi saksi ahli dalam gelar perkara terkait isu ijazah Presiden Joko Widodo. Ungkapan tersebut disampaikannya melalui akun media sosial X @RidhoRahmadi85 pada tanggal 10 Januari 2026.

Dia menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang ahli yang mengklaim memiliki wewenang khusus, melainkan seorang akademisi yang bersyukur telah menempuh pendidikan tinggi di bidang Informatika dan Kecerdasan Buatan. Ridho menyebut bahwa pada pertengahan Desember 2025, dia menghadiri gelar perkara khusus di Polda Metro Jaya atas undangan langsung dari Dr. Tifauzia Tyassuma.

“15 Desember 2025 lalu, atas undangan Dr. Tifa, saya menjadi saksi ahli dalam gelar perkara khusus dugaan ijazah palsu, di Polda Metro Jaya,” tulis Ridho dalam cuitannya.

Dalam forum tersebut, Ridho bersama dengan Prof. Tono Saksono memaparkan berbagai perspektif ilmiah terkait dengan analisis yang telah dilakukan oleh tim RRT. Dia menjelaskan bahwa persiapan teknis dilakukan dengan sangat matang untuk memastikan pemaparan yang komprehensif.

Ridho mengungkapkan bahwa satu hari sebelum acara, dia dibantu oleh mantan mahasiswanya yang kini menjabat sebagai Ketua Program Studi untuk menganalisis kode program buatan Dr. Rismon. Analisis tersebut berfokus pada metode pengolahan citra digital yang digunakan untuk menilai keaslian dokumen ijazah.

“Semalam sebelumnya, dibantu mantan mahasiswa saya yang sekarang jadi Kaprodi, kami menganotasi baris-baris kode program Dr. Rismon di dalam menganalis otentisitas ijazah dengan pendekatan image processing,” ungkapnya.

Tujuan dari analisis mendalam tersebut adalah untuk menerjemahkan bahasa pemrograman yang kompleks menjadi penjelasan yang mudah dipahami oleh masyarakat awam. Dia ingin memastikan bahwa setiap langkah teknis dapat dijelaskan secara transparan dan logis.

Persiapan lainnya melibatkan studi literatur lintas disiplin ilmu yang dibantu oleh seorang Kepala Biro Akademik dari sebuah politeknik di Yogyakarta. Mereka menyusun sebuah tabel yang merangkum tiga puluh penelitian terdahulu dalam bidang Neurosains dan Neuropolitika.

“Malam sebelumnya, dibantu seorang Kepala Biro Akademik di sebuah Politeknik di Jogja, membuat semacam tabel studi literatur yang berisi 30 studi Neuroscience (dan Neuropolitika), terdahulu hingga terkini, untuk memberikan perspektif fundamen dari studi yang dilakukan Dr. Tifa,” jelas Ridho.

Dia juga melengkapi paparannya dengan referensi dari pakar ekspresi wajah dunia, Paul Ekman, yang mengembangkan Sistem Pengkodean Tindakan Wajah. Referensi ini digunakan untuk memberikan dasar ilmiah dalam membaca ekspresi wajah yang diterapkan dalam analisis fenomena sosial politik.

Sebagai bahan pelengkap, Ridho membawa serta dokumen pencapaian riset berbasis kecerdasan buatan di tingkat internasional. Dia mencetak laman resmi Hadiah Nobel yang menunjukkan para penerima penghargaan pada tahun 2024 di bidang Fisika dan Kimia yang karyanya berkontribusi pada fondasi model AI.

“Saya juga cetak laman tentang dua (dari tiga) penerima Nobel Prize 2024 dalam bidang Kimia, yang menggunakan AI untuk memprediksi struktur protein, sebuah permasalahan yang telah berumur 50 tahun,” tambahnya.

Dari contoh-contoh prestasi ilmiah tersebut, Ridho menekankan bahwa pengakuan di tingkat global diberikan berdasarkan kontribusi nyata, bukan sekadar gelar atau sertifikat formal. Dia juga menyoroti bahwa kolaborasi lintas disiplin ilmu merupakan hal yang biasa dan justru dianjurkan dalam dunia akademik modern.

Setelah memaparkan seluruh materi persiapan yang sangat detail tersebut, Ridho menyerahkan semua dokumen kepada penyidik yang bertugas. Mengenai dampak dari kesaksian yang diberikannya, dia mengaku tidak mengetahui hasil akhirnya karena status hukum para pihak yang dilaporkan masih tetap sama.

“Tapi paling tidak, dalam sedikit pengalaman akademis saya, yang saya siapkan untuk gelar perkara khusus tersebut sama standarnya dengan apa yang saya siapkan untuk presentasi atau kuliah, ketika saya studi di luar negeri dulu,” terang dia.

Ridho kemudian berbagi pengalamannya mempresentasikan hasil riset di berbagai kota besar dunia seperti Glasgow, Hamburg, Nijmegen, Pittsburgh, dan Reykjavik. Pengalaman tersebut memperkaya perspektifnya tentang standar akademik internasional yang berusaha dia terapkan di Indonesia.

Di akhir pernyataannya, dia menyampaikan harapan yang mendalam agar ilmu pengetahuan tidak dipandang remeh di tanah air. Ridho mengutip perkataan Imam Syafi’i tentang pentingnya ilmu baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat sebagai penutup refleksinya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved