Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ranah Minang Tercoreng: Nenek Saudah, Simbol Perlawanan terhadap Tambang Ilegal

Penulis: Rina Syafri

Nenek Saudah, Simbol Perlawanan Ranah Minang

Kasus penganiayaan terhadap Nenek Saudah karena menolak tambang ilegal adalah luka moral yang dalam bagi masyarakat Minangkabau. Di tanah yang dikenal menjunjung tinggi adat dan penghormatan kepada orang tua, tindakan keji ini seolah menampar wajah budaya kita sendiri.

Menghormati Orang Tua, Menghormati Alam

Sebagai orang Minang, kita diajarkan sejak kecil bahwa orang tua adalah sumber kebijaksanaan. Lebih dari itu, mereka adalah penjaga nilai dan pelindung alam. Ketika seorang nenek renta berani berdiri menolak tambang ilegal demi keselamatan anak cucu, seharusnya ia mendapat apresiasi, bukan perlakuan kasar.

Ranah Minang Tidak Boleh Terkoyak

Tambang ilegal bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga merusak tatanan sosial. Kita sudah menyaksikan bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar akibat pembalakan liar dan tambang ilegal. Nyawa melayang, kampung hancur, dan air bah menelan saudara kita. Apakah kita harus menunggu Sumbar tenggelam baru menyadari kesalahan yang terus diulang?

Seruan Moral untuk Pihak Berwenang

Kasus ini harus menjadi momentum bagi aparat dan pemimpin daerah untuk bertindak tegas. Penganiayaan terhadap lansia adalah pelanggaran nurani, dan tambang ilegal adalah ancaman nyata bagi masa depan. Penegakan aturan bukan sekadar formalitas, melainkan kewajiban moral demi menjaga ranah Minang dari kehancuran.

Kecaman dari Perantauan

Saya selaku orang Minang yang berdomisili di perantauan mengecam keras perbuatan kasar yang tidak bermoral ini. Hidup jauh dari kampung halaman membuat saya selalu beranggapan bahwa nilai luhur penghormatan kepada orang tua masih dijunjung tinggi di tanah kelahiran. Namun kenyataan pahit ini menunjukkan adanya oknum yang tega mengkhianati nilai adat dan kemanusiaan. Sikap seperti ini tidak hanya mencederai hati masyarakat Minang, tetapi juga mempermalukan nama baik ranah kita di mata dunia.

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Minangkabau memiliki falsafah luhur: “Alam takambang jadi guru” — alam adalah sumber pelajaran dan kebijaksanaan. Ketika seorang nenek berjuang menjaga alam, ia sesungguhnya sedang menjalankan amanah adat. Begitu pula pepatah “Budi nan basandi adat”, yang menegaskan bahwa perilaku manusia harus berlandaskan adat dan nilai moral. Penganiayaan terhadap Nenek Saudah jelas bertentangan dengan falsafah ini, dan menjadi tanda bahwa sebagian dari kita mulai kehilangan arah.

Pertanyaan Nurani

Dimana hati nurani mereka yang tega menganiaya seorang nenek? Bagaimana jika orang tua mereka sendiri yang diperlakukan demikian? Pertanyaan ini seharusnya menggugah empati, karena tanpa empati, kita kehilangan jati diri sebagai manusia.(*)


Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved