
Repelita Jakarta - Pegiat media sosial John Sitorus kembali menyuarakan kritik pedas terhadap Partai Demokrat yang berubah haluan mendukung mekanisme pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Melalui akun Threads pribadinya, John Sitorus menduga keputusan tersebut dipengaruhi oleh janji kekuasaan bagi Agus Harimurti Yudhoyono sebagai kandidat wakil presiden pada pemilu mendatang.
“Demi kekuasaan sang putera mahkota dan iming-iming kursi Cawapres 2029 ‘kalo jadi’,” tulisnya pada Kamis, 8 Januari 2026.
Ia menilai partai tersebut rela mengkhianati prinsip reformasi hanya demi kepentingan politik jangka pendek.
“Demokrat rela jadi partai PECUNDANG reformasi,” katanya.
John Sitorus menyoroti ketidakkonsistenan sikap dengan mengingat penolakan tegas Susilo Bambang Yudhoyono terhadap ide serupa belum lama berselang.
“Gimana gak pecundang? baru tahun 2023 SBY menolak keras Pilkada lewat DPRD, sekarang Demokrat malah setuju Pilkada lewat DPRD,” ungkapnya.
Menurutnya, implementasi wacana ini akan mencabut hak masyarakat untuk menentukan pemimpin daerah secara langsung.
“Ini artinya, rakyat tidak boleh lagi memilih Gubernur, Bupati dan Walikota secara langsung,” jelas John Sitorus.
Masyarakat hanya akan menjadi saksi bisu atas permainan politik di tingkat legislatif.
“Rakyat hanya menonton drama di DPRD yang dipenuhi politikus-politikus BUSUK,” ucapnya.
Ia pun menyatakan bahwa nama Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono, serta Partai Demokrat kini tercatat sebagai noda dalam sejarah bangsa.
“SBY, AHY dan Demokrat masuk kedalam daftar AIB bangsa ini,” tandasnya.
Pernyataan John Sitorus ini semakin mempertajam perdebatan publik seputar pergeseran posisi Partai Demokrat dalam isu pemilihan kepala daerah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

