
Repelita Tehran - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei secara tegas membantah laporan yang menyebutkan tiga puluh ribu orang tewas dalam kerusuhan baru-baru ini.
Ia menyatakan bahwa klaim mengenai korban jiwa sebanyak itu hanya dalam waktu dua hari merupakan bentuk disinformasi yang disengaja.
Melalui sebuah unggahan di akun media sosial X pada hari Minggu, Baqaei menggambarkan angka yang beredar sebagai kebohongan besar yang menyerupai propaganda zaman Hitler.
Ia menuduh pihak-pihak bermusuhan berusaha merekayasa jumlah korban melalui media setelah gagal mencapai tujuan mereka di lapangan.
“Kebohongan besar ala Hitler: bukankah ini jumlah yang mereka rencanakan untuk dibunuh di jalanan Iran?!” tulis Baqaei.
“Namun mereka gagal, dan sekarang mereka mencoba MEMALSUKANNYA di media,” lanjutnya dalam cuitan tersebut.
“Sungguh kejam!” tegas juru bicara pemerintah Iran itu.
Baqaei juga membagikan sebuah gambar yang memuat laporan mengenai tuduhan tersebut sekaligus mengutuknya dengan keras.
Menurut penilaiannya, upaya tersebut merupakan bentuk penipuan yang keji terhadap opini publik di tingkat global.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi turut menolak kritik yang dilontarkan oleh Amerika Serikat terkait penanganan kerusuhan.
Dalam unggahan di akun X pada hari Jumat, Araqchi membela langkah-langkah keamanan yang diambil oleh pemerintah Teheran.
Ia menyebut bahwa tindakan tersebut merupakan respons terhadap kampanye teror yang terkoordinasi dengan baik.
Aksi teror tersebut dinyatakan telah menewaskan ribuan orang dan mengakibatkan kerusakan material yang sangat luas di berbagai wilayah.
Araqchi mengutip pernyataan dari Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance untuk memperkuat argumentasinya.
Pernyataan Vance menyebutkan bahwa tidak ada pemerintah yang akan mentolerir kekerasan besar-besaran terhadap institusi publik, tempat ibadah, dan warga sipil.
Atas dasar itu, Araqchi menilai Washington telah menerapkan standar ganda dalam menilai tindakan yang diambil oleh Iran.
Ia kemudian merinci besaran kerusakan dan korban jiwa yang diakibatkan oleh kerusuhan tersebut untuk memberikan konteks.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil semata-mata bertujuan untuk memulihkan ketertiban dan keamanan publik.
“Kekacauan akibat operasi teroris baru-baru ini di Iran,” tulis Araqchi merinci data yang dimiliki pemerintah.
Ia menyebutkan tiga ratus lima unit ambulans dan bus hancur, bersama dengan dua puluh empat stasiun pengisian bahan bakar.
Tujuh ratus toko swalayan, tiga ratus rumah pribadi, dan tujuh ratus lima puluh bank juga mengalami kerusakan parah.
Empat ratus empat belas gedung pemerintah, tujuh ratus empat puluh sembilan kantor polisi, serta seratus dua puluh pusat Basij turut menjadi sasaran.
Kerusakan juga menimpa dua ratus sekolah, tiga ratus lima puluh masjid, lima belas perpustakaan, dan dua gereja Armenia.
Dua ratus lima puluh tiga terminal bus, enam ratus anjungan tunai mandiri, serta delapan ratus mobil pribadi ikut hancur atau rusak.
Total korban jiwa yang diklaim pemerintah Iran berjumlah tiga ribu seratus tujuh belas orang.
Rinciannya adalah dua ribu empat ratus dua puluh tujuh orang dari kalangan warga sipil dan pasukan keamanan.
Sementara itu, enam ratus sembilan puluh orang dikategorikan sebagai teroris yang tewas dalam operasi penegakan hukum.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

