
Repelita Jakarta - Balqis Humaira menyoroti aspek politik di balik keputusan Presiden Prabowo Subianto merekrut Raffi Ahmad ke dalam kabinet.
Menurutnya, pemilihan tersebut bukan karena kecerdasan atau pemahaman negara yang mendalam dari Raffi.
Alasan utama terletak pada kemampuan Raffi untuk membangun kepercayaan publik secara instan tanpa perlu penjelasan panjang.
Kualitas itu dianggap langka dalam konteks politik saat ini.
Situasi pascapemilu membuat masyarakat lelah dengan pidato dan klarifikasi dari pejabat.
Pemerintah menghadapi tantangan besar dalam berkomunikasi tanpa membuat rakyat bosan atau skeptis.
Solusi yang dipilih adalah melibatkan figur seperti Raffi yang membuat orang nyaman melihat tanpa ketegangan.
Raffi digambarkan sebagai sosok ramah yang tidak memicu kontroversi ideologis atau kritik tajam.
Pendekatan ini mirip dengan konsep co-optation di mana pihak berpengaruh dirangkul untuk menjamin stabilitas.
Teori Antonio Gramsci disebutkan sebagai dasar di mana kekuasaan lebih memilih merangkul daripada menekan.
Contoh seperti Deddy Corbuzier menunjukkan bagaimana posisi dalam sistem mengubah sikap seseorang menjadi lebih hati-hati.
Teori legitimasi pinjaman dari Max Weber juga relevan di mana kepercayaan publik terhadap artis dipinjam untuk memperkuat citra pemerintah.
Raffi sendiri menerima posisi tersebut karena menawarkan perlindungan bagi citranya yang rentan di ruang publik.
Bisnisnya yang berisiko tinggi menjadi faktor utama dalam keputusan tersebut.
Ini merupakan bentuk pelestarian diri yang wajar dan manusiawi.
Peran Raffi dalam kabinet bukan sebagai pemikir kebijakan melainkan peredam kritik masyarakat.
Ia berfungsi sebagai penyeimbang suasana di tengah tekanan publik tanpa perlu intervensi langsung.
Fans Raffi menjadi benteng tak terduga bagi kekuasaan tanpa bayaran atau instruksi.
Mereka membela idola secara emosional sehingga ikut melindungi sistem secara tidak langsung.
Fenomena ini didasarkan pada psikologi massa di mana rasa sayang mengalahkan logika.
Efek halo membuat kesukaan terhadap satu aspek meluas ke aspek lain tanpa verifikasi.
Identitas kelompok membuat kritik terhadap idola terasa sebagai serangan pribadi.
Kekuasaan memanfaatkan dinamika ini tanpa perlu campur tangan langsung.
Hasilnya adalah stabilitas yang terjaga melalui mekanisme alami tanpa terlihat represif.
Editor: 91224 R-ID Elok

