Repelita Aceh - Kader Partai Kebangkitan Bangsa Umar Hasibuan yang akrab disapa Gus Umar memberikan tanggapan tajam terhadap pernyataan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak mengenai dugaan sabotase jembatan di wilayah bencana.
Maruli sebelumnya menyebut ada pihak yang sengaja melepaskan baut jembatan bailey yang sedang dibangun prajurit TNI bersama warga terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Gus Umar justru membagikan rekaman video yang menampilkan seorang warga setempat sedang memeriksa kondisi baut pada salah satu jembatan.
Lokasi pasti jembatan dalam video tersebut belum diketahui secara rinci.
Warga yang mengenakan peci hitam itu memperagakan bahwa baut sudah dalam keadaan kendur.
Ia bahkan dengan mudah melepaskan salah satu baut hanya dengan tangan kosong.
“Ini pendek, nggak nyampai,” kata warga di video itu.
Gus Umar tidak hanya mengkritik pernyataan Maruli.
Ia juga menyamakan sikap KSAD dengan mertuanya yaitu Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan.
“KSAD dan mertuanya Luhut apa bedanya ges?” tulis Gus Umar.
Rekaman itu diklaim diperoleh langsung dari masyarakat Aceh.
“Dapat laporan tentang baut dibalas langsung oleh warga aceh. Sekarang Maruli pura-pura gak tahu kalau ucapnnya viral,” tambahnya.
Sebelumnya pada 29 Desember 2025, Maruli mengungkap temuan sabotase saat konferensi pers di Posko Terpadu Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta.
Prajurit di lapangan menemukan baut jembatan sengaja dilepas pada Minggu pagi 28 Desember 2025.
Maruli tidak merinci lokasi kejadian tersebut.
"Ini bukan hanya dilonggarkan, dilepas! Jadi memang niatnya sudah luar biasa. Nanti akan telusuri sampai sejauh mana, namun saya pikir kita lebih baik fokus saja bagaimana pekerjaan kita ini bisa melayani masyarakat, dan bisa dijaga untuk bisa betul-betul aman untuk masyarakat itu sendiri," ujar Maruli.
Ia mengaku telah mendapat peringatan dari beberapa pihak termasuk Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengenai kemungkinan ancaman sabotase.
Maruli sempat ragu karena sulit membayangkan ada yang bertindak demikian di tengah musibah bencana.
"Kami juga tidak menyangka ada orang sebiadab ini ya, terus terang saja," katanya.
"Jadi, dalam kondisi begini pun masih ada kelompok-kelompok orang yang mau, bisa dikatakan arahnya (menyerang, red.) kepada pemerintah, (tetapi) mengorbankan masyarakat, masyarakat yang sedang bencana pun mau dikorbankan. Jadi, terus terang, saya semalam tidak bisa tidur, saya memikirkan ini, karena saya pikir, orang sebiadab ini, luar biasa," lanjut Maruli.
Maruli langsung membantah anggapan bahwa isu sabotase merupakan rekayasa aparat untuk pengondisian opini.
"Nanti ada lagi yang bilang, oh ini sengaja nih pengkondisian. Kalau pengkondisian membuat masyarakat mati, bukan pengkondisian namanya itu. Itu biadab namanya. Jadi, ini bukti-bukti nyata sudah ada, kasihan masyarakat korban. Jangan lagi sampai jiwanya korban lagi," tegasnya.
Editor: 91224 R-ID Elok

