
Repelita Tokyo - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berencana membubarkan parlemen pekan depan guna membuka jalan bagi pemilihan umum lebih cepat dari jadwal semestinya.
Parlemen dijadwalkan dibubarkan pada Jumat 23 Januari 2026 menurut laporan yang dikutip dari Xinhua pada Senin 19 Januari 2026.
Pemilu diperkirakan akan digelar pada bulan berikutnya atau sekitar dua setengah tahun lebih awal dari periode normal.
Langkah ini diambil Takaichi untuk memperoleh mandat publik yang lebih kuat dalam mendukung kebijakan utama pemerintahannya.
Beberapa kebijakan prioritas yang ingin didorong mencakup peningkatan belanja pemerintah serta penguatan strategi pertahanan nasional yang baru.
Pemilu mendatang akan memperebutkan seluruh 465 kursi di majelis rendah parlemen yang menjadi ujian elektoral pertama bagi Takaichi sejak dilantik sebagai perdana menteri wanita pertama Jepang pada Oktober lalu.
Takaichi saat ini menikmati tingkat popularitas yang tinggi dan berharap dapat memperoleh kursi lebih banyak agar kebijakannya dapat diloloskan tanpa hambatan signifikan.
Partai Liberal Demokratik yang dipimpinnya gagal meraih mayoritas mutlak pada pemilu sebelumnya sehingga masih bergantung pada koalisi dengan partai lain untuk mengesahkan undang-undang.
Sebuah survei terbaru dari lembaga penyiaran publik NHK yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa 45 persen responden menganggap biaya hidup sebagai isu utama yang paling mengkhawatirkan.
Isu diplomasi serta keamanan nasional berada di posisi kedua dengan persentase 16 persen dari total responden.
Editor: 91224 R-ID Elok

